×

Langganan Artikel Bukit Buku

Puisi

Puisi adalah karangan teks yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyairnya dengan mengutamakan keindahan kata-kata. Jadi dalam puisi, kita dapat menyampaikan rasa kerinduan, kegelisahan, atau pengagungan yang kamu ungkapkan dalam bahasa yang indah.

Sebuah Sajak Plastik PUISI

Sebuah Sajak Plastik

Dua bahkan tiga ratus tahun lalu, tak terbayangkan kita duduk sejajar; (kau perempuan kaukasia, dan aku pria Indonesia) - di Taman Gajah, di samping Sungai Cisadane, lalu sama menyimak– ke tepi sebelah mana plastik-plastik tak berharga tertambat dan tak bisa mencemari laut?   Tak terbayangkan juga – kita sama terkejut akan fakta: saat ini 17 dari 22 orang dari kita mengalir microplastic dalam darahnya! Dan semenit dari mulai bicara – kutahu kita sama-sama peduli lingkungan; tapi tak seorang pun dari kita bisa mencegah   seorang bapak membakar timbunan sampah plastik di seberang sungai.   2024   Tangerang Selatan 33 C Berderaulah, Kipas Anginku, siang ini kubiarkan kau bersuara karena udara terasa panas tak biasa. Padahal aku tahu, Kipas Anginku, agar kau bisa berputar, dibakar 11 juta ton batu bara api bulan di PLTA,   tapi aku tak kuasa mendinginkan Tangerang Selatan yang sudah 33 C hari ini. Berderaulah, Kipas Anginku, dalam puisi ini – agar orang paham, betapa risau aku memikirkan kelestarian bumi. 2024   Biodata Penyair Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal sekarang mukim di Tangerang. Menulis puisi sejak 2006 dan sempat bergabung dengan berbagai komunitas sastra seperti BuMa (Bunga Matahari), Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam) atau Reboan, ApSas (Apresiasi Sastra), juga Warung Puisi. Puisi-puisinya telah dimuat di media nasional baik cetak maupun daring. Pernah didapuk sebagai penyair berbakat juga penulis puisi terbaik beberapa situs sastra, dan bersama sastrawan Hasan Aspahani membidani beberapa situs sastra seperti Lokomoteks dan Mata Puisi. Karyanya yang telah dibukukan salah satunya berjudul "Apalah Kita di Bawah Hujan" (Rua Aksara, 2023).

Baca Selengkapnya
Saksi: Air Minum dan Puisi Lainnya PUISI

Saksi: Air Minum dan Puisi Lainnya

  Empat es batu bergoyang-goyang dalam tubuh Berdansa di danau perut Danau yang siap diseruput Agar segera surut segala carut-marut Sebelum maut menjemput   Kusaksikan, Telinga tubuh itu terangkat Diam tanpa suara rengekan Tubuh danau selalu siap menahan Beban goyang dan gendongan Digendong mendekati lobang menjadi cikal-bakal air terjun Ke dasar hunian   Cuaca di luar panas Huru-hara terowongan terasa suram Berdemo besar-besaran Karena daerahnya kering-kerontang Sebab, air danau belum terjun ke aliran sungai terowongan   Saat air itu mengalir Warga desa terasa bahagia Mendengar berita hilangnya derita Terangkatnya sungai surut, kembali berair Menguap mengalir ke dalam rongga-rongga sawah dan ladang Membentuk aliran energi-energi Guna hidupkan pohon pemompa udara Kesehatan Pada suatu masa, hilangnya mata air menjadi air mata durjana di seluruh dunia (2023)   Saksi II: Rusaknya Alam Raya Aku melihat Musa berjalan Lewati sungai-sungai kering Bukan sebab tongkat Musa tertancap Melainkan sebab air sudah malas dengan tingkah pongah manusia   Aku berjalan mendatangi Nuh sebagai nelayan Ia tampak murung, melihat kapalnya menganggur Bukan tersebab air bah Tuhan telah menelan putranya Melainkan kapalnya tak mampu lagi berlayar Sebab kapal telah beralih fungsi menjadi rumah Penampungan manusia   Aku berlayar bertemu Adipati Unus Ia tembaki tembok-tembok kapitalisme Melawan penjajah-penjajah kaum papa Keserakahan merajalela Pati Unus pun mati di seberang sana   Aku terpana saat berlabuh di Batavia Kota yang telah berubah keelokannya Pangeran Jayakarta merasa pilu Jakarta-nya sudah tak se-eksotis dulu Tersebab kerakusan manusia, membalak pohon Menjadi kanal-kanal Amsterdam demi keuntungan Kapital-kapital dagang   Kini panas bumi menjadi saksi Rusaknya alam raya yang indah ini (2023)   Saksi III: Ajal Bumi Kian Datang Aku membaca koran Katanya sungai-sungai kering-kerontang Cuaca mendidih menindih Bukan hanya karena hutang persuratkabaran menumpuk dan kemiskinan timpang Melainkan banyak pohon-pohon tumbang Tersebab melelehnya lendir kekuasaan pada kerakusan dan keserakahan   Aku berjalan, di jalanan gersang Di selokan-selokan, air telah menjelma koka-kola Di sekolahan-sekolahan anak-anak meminum keringatnya Tersebab hujan lama tak tiba, dan tetumbuhan banyak yang telah wafat Karena hutan kita sudah tidak pernah sehat wal afiat Hingga ajal hutan semakin lama semakin mendekat   Mataku mengucur, membanjiri kubur-kubur leluhur Bunga ajal telah datang Bunga ajal telah datang Membentang ajal bumi terpandang terpampang Ajal bumi kian datang Ajal bumi kian datang, menjemput insang dunia yang mati kering-kerontang (2023)   Muhammad Rifqi Sa'dullah, penulis pemula asal Demak, Alumni Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo. Manusia dengan cuaca tak tentu yang senang overthinking dan bicara sendiri (sampai pernah dianggap gila) mengenai berbagai hal dan peristiwa-peristiwa masa kini, terutama hal ihwal kehidupan maupun arus viral informasi. Pernah menulis beberapa buku puisi (yang mungkin entah pantas atau tidak disebut puisi?), salah satu bukunya adalah Teropong Kontemplasi.

Baca Selengkapnya
Puisi Terjemahan PUISI

Puisi Terjemahan

Dorianne Laux Petang Cahaya bulan mencurah tanpa belas kasih, tak peduli berapa banyak yang telah binasa di bawah pohon-pohon itu. Batang air bergulir. Akan selalu ada keheningan, tak peduli seberapa lama seseorang menangis menentang satu sayap rumah, dengan lengan telanjang menekan papan sirap. Segalanya berakhir. Bahkan rasa sakit, bahkan dukalara. Angsa-angsa memintas. Alang-alang memikul beban bungkul mereka yang seringan bulu. Kerikil-kerikil kian mengecil, Lebih halus di bawah arus kasap malam. Kita menempuh jarak yang jauh, seraya membawa pundi-pundi kita, buntalan kita. Beban atau pemberian. Kita tahu tanah itu menghilang di bawah laut, pulau-pulau ditelan seperti ikan prasejarah. Kita tahu kita ditakdirkan mati, tamat, terkutuk, dan masih saja cahaya menjangkau kita, jatuh di pundak kita bahkan saat ini, bahkan di sini, di mana bulan itu sembunyi dari kita, sekalipun bintang-bintang begitu jauh.   Eunsong Kim Romansa #1 seperti gadis 14 tahun yang menunggu orang yang ditaksirnya menoleh ke belakang, aku terus menantikan kapitalisme berakhir tapi kapitalisme tidak bakal berakhir pacarku menyebut apa-apa yang bakal berakhir: Perpustakaan-perpustakaan Burung-burung Masa pensiun Jatah cuti Lari jarak pendek selama waktu cuti Kelinci-kelinci hispid Bintang laut yang bentuknya seperti bintang Pengangguran Kerepotan-kerepotan Kerut keriput Cekungan pipi Terumbu karang hidup Protes-protes Proliferasi Anti-Nuklir Pakta Non-Agresi Capung-capung Buah manggis Zona Demiliterisasi Embargo Perdagangan Macan tutul, semua famili Hiu gergaji Konservasi skala besar Rencana/Mimpi Infiltrasi Pohon ek, Pohon-pohon. Partulina Variabilis Partulina Splendida (———) Program Pencegahan Kekerasan Berita. Berita: Semoga beberapa ubur-ubur tetap bertahan hidup— menghitung hingga penyingkapan wahyu jadi bagian dari   Matthew Olzmann Surat untuk Seseorang yang Hidup Lima Puluh Tahun dari Sekarang Kemungkinan besar, kau mengira kami membenci gajah, katak emas, harimau Tasmania dan semua jenis ikan paus yang ditombak atau diretas hingga punah. Kelihatannya kami seperti tidak meninggalkan apa pun untukmu kecuali benzena, merkuri, tembolok burung camar berdesir dengan bahan bakar jet dan plastik. Kau mungkin ragu bahwa kami sanggup bersukacita, tapi kuyakinkan kau, kami sanggup. Kami masih memiliki langit malam saat itu, dan seperti para leluhur kami, kami mengagumi teraan-teraan terang tanpa juntrungan garis markah kalajengking dan sudip terbalik. Tentu saja, masih ada beberapa hutan tersisa! Tentu saja, kami masih punya beberapa telaga! Maksudku, tidak semuanya cat timbal dan sulfur dioksida. Ada lebah pada masa itu, dan mereka menyerbuki euforia bunga-bunga sehingga kami bisa merenungkan misteri-misteri agung dan akhirnya bertanya, “Hei bung, apa sih transendensi itu?” Dan kemudian semua lebah itu mati.   Para Penyair  Dorianne Laux adalah seorang konselor di Academy of American Poets. Beberapa kali dia pernah mendapatkan penghargaan. Dia mengajar penulisan kreatif di University of Oregon. Dia tinggal di North Carolina, Amerika Serikat. Eunsong Kim, seorang professor di Departemen Bahasa Inggris Northeastern University. Dia juga pernah mendapat Ford Foundation Fellowship, dan hibah dari Andy Warhol Arts Writers Program, juga Poynter Fellowship dari Yale University. Matthew Olzmann adalah penulis kelahiran Detroit, Amerika Serikat. Beberapa kali dia mendapat penghargaan. Dia berprofesi sebagai pengajar untuk para penulis di sebuah kampus. Sekarang dia tinggal di Vermont, Amerika Serikat. Penerjemah Lutfi Mardiansyah, lahir di Sukabumi, 4 Juli 1991. Menulis puisi dan prosa, serta menerjemahkan karya-karya sastra.  

Baca Selengkapnya
Yang Bernama Rumah PUISI

Yang Bernama Rumah

Yang bernama rumah, tempat segala gundah kita dibenamkan sepenuh arah Selepas berbulan-bulan lewat, hujan tumbuh lebat di antara arak-arakan sungai yang tak lagi sanggup menjadi tuan rumah yang baik atau setidaknya memberi petunjuk terbaik untuk menenangkan sisa guyurnya. Yang bernama rumah, tempat segala gundah kita dibelah tak karuan ke segala arah Selepas bertahun-tahun lewat, rumah dibakar hebat di antara arak-arakan api yang tak lagi lahir sendiri api yang diciptakan dari rumahmu sendiri dari segala api darimu, dari tuanmu, dari segenap penghuni rumahmu Tayu-Pati, Agustus 2023 Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kota Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya Bermula Kembara Bermuara Kendara (Sangkar Arah Pustaka, 2021) memperoleh nominasi Antologi Puisi Terbaik Prasidatama 2022 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Buku puisi terbarunya, Apakah Surga itu Sebuah Agama (Sangkar Arah Pustaka, 2022).     

Baca Selengkapnya
Rumah Paling Asing PUISI

Rumah Paling Asing

Katamu, kau sudah asing  dengan rumahmu  Katamu, hutan mudah ditebang  Lalu suatu saat tumbuh lagi  Katamu langit luas, udaranya mudah berganti  dengan bebas   Katamu, kau sudah asing  dengan rumahmu  Lalu bagaimana jadinya,  jika laut pula dikuras  Lalu bagaimana pula jika tanah dikeruk   Katamu, ikan-ikan punya rumah  Hewan-hewan punya tempat berteduh  Burung-burung punya biru langit  untuk ditempuh   Katamu, kau sudah asing  dengan rumahmu  Sudah lama, sudah lama sekali  Semua orang berpikir  Sudah lama, sudah lama sekali  Semua orang menjadi beringasan  Sudah lama, sudah lama sekali  Semua orang menjadi sangat pendek  untuk menghadapi apa saja yang masih panjang  dan tumbuh menjalar di dunia ini   Katamu, kau sudah asing  dengan rumahmu Katamu, hutan mudah ditebang  Katamu langit luas,  Katamu laut tak pernah habis dikuras  Tanah tak pernah habis dikeruk-keruk  Katamu, ikan-ikan punya rumah  Hewan-hewan punya tempat berteduh  Burung-burung punya biru langit untuk selalu ditempuh   Katamu, kau sudah asing  dengan rumahmu  Katamu. Suatu hari nanti.  Kita akan membuktikan bersama.  Suatu hari nanti. Ketika kau,  mungkin sudah kian rakus lagi.   Tayu-Pati, Agustus 2023 Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kota Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya Bermula Kembara Bermuara Kendara (Sangkar Arah Pustaka, 2021) memperoleh nominasi Antologi Puisi Terbaik Prasidatama 2022 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Buku puisi terbarunya, Apakah Surga itu Sebuah Agama (Sangkar Arah Pustaka, 2022).   

Baca Selengkapnya
Sungai Menuju Rumahmu PUISI

Sungai Menuju Rumahmu

Jika benar sungai itu  sebuah jalan menuju  rumahmu  Menuju ketiadaanmu  yang sama sekali tak pernah  ditunggu-tunggu   Hunilah bersama kerikil  dan batu-batu  Sebab petang nanti,  sore sudah seperti diri lain  yang asing untuk sekadar mengucap,  “Selamat malam, Petang.  Selamat menjadi diri yang panjang-panjang.”   Jika benar sungai di hari depan  sebuah perkara baru  untuk memuja  kepergian-kepergianmu   Maka kejarlah apa saja  yang kerap menjadikanmu asing terhadap hari-hari burukmu   Bagaimana hari depan  dan hari-hari kemudian  Semua yang tumbang,  segala yang tak lagi dimiliki  orang-orang   Jika benar sungai itu jalan menuju rumahmu  Adalah dunia yang putus asa  yang tak sanggup lagi bersuara  Tak sanggup mengucapkan kesungguhan untuk segala  keburukan-keburukan  yang kita tinggalkan  Sama sekali tak sanggup  kita tanggalkan   Kemudian di hari-hari  berikutnya  Semua orang bertanya,  Sudikah kiranya sejenak saja meluapkan kembali kepedihan  di jalan-jalan menuju sungai yang sama sekali tak pernah  ke rumahmu itu?   Tayu-Pati, Agustus 2023 Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kota Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya Bermula Kembara Bermuara Kendara (Sangkar Arah Pustaka, 2021) memperoleh nominasi Antologi Puisi Terbaik Prasidatama 2022 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Buku puisi terbarunya, Apakah Surga itu Sebuah Agama (Sangkar Arah Pustaka, 2022). 

Baca Selengkapnya
Footer