Alam sedang tidak baik-baik saja. Baru-baru ini beribu ikan keramba jaring apung memenuhi permukaan Danau Maninjau dengan napas yang tak lagi ada¹. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama berita duka itu adalah kadar oksigen yang semakin berkurang di dasar danau dan juga cuaca buruk yang terus melanda. Sejak dulu, degradasi lingkungan selalu melukai bumi pertiwi tiada henti. Masih basah di dalam ingatan tragedi ke(pem)bakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan pada tahun 2015. Ketika beberapa kota di sana menjelma menjadi kota asap sekaligus menghasilkan debu-debu halus yang sangat berbahaya untuk kesehatan. Belum lagi drama tragedi tentang pembukaan kawasan hutan dan pembuangan limbah yang tak berkesudahan, sebab keuntungan membuat penerimanya terus mencari, alih-alih berhenti.
Dalam skala global, tingkat kehilangan keragaman hayati telah sampai pada titik yang mengerikan. Fred Magdoff dan Bellamy Foster (2018) di dalam What Every Environmentalist Needs To Know about Capitalism: A Citizen's Guide to Capitalism and the Environment memberikan panduan sederhana untuk mengukur standardisasi hilangnya keragaman hayati. Tingkat kehilangan 'alamiah' keragaman hayati tahunan pada masa pra-industri adalah 0,1 sampai 1 per juta, sedangkan ambang batas yang disepakati oleh para ilmuwan adalah 10 per juta. Di masa pra-industri, planet bumi dapat bernapas lega. Namun pada tahun 2001 yang lalu, tingkat kehilangan keragaman hayati telah punah.
Sampai pada angka 100 per juta dan dilaporkan terus bertambah, setiap tahunnya (kini sudah dua puluh tahun sejak 2001). Fenomena seperti inilah yang membuat Fred Magdoff dan Bellamy Foster menganggap kini manusia tengah hidup di era kepunahan keenam. Jika kepunahan terakhir adalah saat dinosaurus musnah pada 65 juta tahun yang lalu, maka kepunahan keenam justru memang sedang 'diupayakan' oleh manusia itu sendiri lewat eksploitasi alam yang tidak berkesudahan.
Tak berlebihan jika seorang biologis dan botanis asal Amerika, Arthur W. Galston mencetuskan istilah ekosida——yang mirisnya tidak akan ditemui di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tak jauh berbeda dengan genosida. Jika genosida dapat dimaknai sebagai pemusnahan (cide) ras atau bangsa (genos), maka ekosida dapat diartikan sebagai pemusnahan sumber daya alam. Hal yang melatarbelakangi Arthur W. Galston memperkenalkan ekosida adalah cara tentara Amerika meluluhlantakkan tentara Vietkong (tentara gerilya Vietnam pada masa perang dingin) dengan menyebar sembilan belas ribu ton bahan kimia ke hutan yang menjadi tempat persembunyian mereka. Akibatnya, banyak flora dan fauna yang musnah gegara bahan kimia tersebut yang diperkirakan dapat mengubah gen manusia.
Berbeda dengan genosida yang telah memiliki payung hukum yang jelas, ekosida masih belum mendapatkan pengakuan yang setara dengan genosida. Padahal, genosida adalah ujung cerita dari keberanian manusia memulai ekosida.
Apa Penyebabnya?
Kehidupan adalah cerita tentang pertemuan antara alam dan manusia. Alam menyediakan segala kebutuhan hidup, sedangkan manusia memanfaatkannya untuk keberlangsungan hidup. Alam merasa berguna dan manusia merasa ada, hingga sampai pada satu titik yang bernama 'kuasa.' Karena alam dianggap sebagai makhluk yang tidak memiliki kehendak bebas seperti manusia. Akhirnya manusia merasa berhak untuk mendominasi, mengontrol, hingga mengeksploitasi alam sesuka hatinya. Mau diakui atau tidak, pada akhirnya manusia merasa menang karena berhasil menguasai alam. Padahal manusia telah tertipu dengan keserakahannya sendiri. Mengamini pendapat dari Friedrich Engels bahwa kemenangan manusia atas alam seakan membawa pada hal-hal yang diimpikan, namun pada saat yang kedua; ketiga; dan seterusnya, dampak-dampak yang tak pernah terbayangkan seringkali menghapus yang pertama.
Sayangnya saat-saat yang kedua, ketiga, dan seterusnya itu tidak membuat manusia berhenti, malah mencari sumber daya alam lain yang dapat dihabisi lagi. Seperti inilah cara sistem kapitalisme bekerja, membuat manusia memandang alam sebagai sarana mendapatkan keuntungan yang berlebih, bukan sebagai hal yang patut untuk dinikmati dan disyukuri. Di sisi lain, keuntungan mengundang persaingan antarmanusia yang secara bersamaan memaksa manusia untuk menambah jangkauan eksploitasinya secara lebih luas. Dalam sistem kapitalisme, pandangan yang dianut adalah cukup itu terlalu sedikit sehingga yang harus digapai adalah lebih dari cukup. Akibatnya, manusia menjadi makhluk hidup yang tak pernah kenyang karena setiap hal yang lebih tidak memiliki batas. Setiap hal yang besar menjadi kecil karena selalu ada yang lebih besar dan setiap hal yang lebih besar terasa kurang karena masih ada hal yang jauh lebih besar lagi. Begitu seterusnya.
Sistem kapitalisme hanya memikirkan hasil yang paling cepat, sehingga dampak jangka panjang tak pernah dipertimbangkan dengan akurat. Sistem seperti ini didukung dengan pola budaya masyarakat yang cenderung konsumtif. Hidup cenderung dimaknai dari setiap baju yang dipakai, dari setiap mobil atau motor yang dikendarai, hingga dari setiap makanan yang dikonsumsi. Terkadang budaya konsumtif seperti ini menjadi hal yang terkesan dipaksakan karena harus dilabeli dengan konsumsi yang 'mahal.' Ironisnya, konsumsi-konsumsi yang 'mahal' lazimnya berasal dari sumber daya alam yang sulit ditemui (langka), sementara keberhasilan budaya konsumsi 'mahal' dipandang lebih nyata daripada ancaman krisis ekologi. Fenomena seperti ini disebut oleh Derrick Jensen (aktivis lingkungan) dan Aric McBay (petani sekaligus penulis kolom) sebagai pemutarbalikan fakta. Artinya, kapitalisme dipandang lebih nyata daripada krisis ekologi. Oleh sebab itu, dalam konteks degradasi lingkungan, yang perlu diselamatkan adalah kapitalisme, bukan lingkungan hidup itu sendiri.
Puncaknya, membayangkan bumi yang dipenuhi dengan bencana tampak lebih mudah daripada membayangkan kapitalisme berhenti secara tiba-tiba.
Apa Akibatnya?
Jika sistem kapitalisme terus dipertahankan mati-matian, maka ekosida sebagai pola kerjanya akan berujung genosida. Sebut saja seperti aktivitas pembuangan limbah tambang PT Freeport Indonesia ke sungai Ajkwa Mimika, Papua yang telah dengan 'sukses' mematikan tumbuhan air sekaligus mempengaruhi siklus reproduksi ikan di sungai tersebut. Nyatanya 'kesuksesan' tersebut tak membuat penambangan berhenti jika tidak berhenti, setidaknya bisa dengan cara mengurangi aktivitas produksi, penambangan terus dilanjutkan hingga ke bawah tanah. Akhirnya kabar duka itu datang, pada tanggal 14 mei 2013, atap area pelatihan tambang bawah tanah Big Gossan roboh dan menimpa 38 pekerja tambang dan 28 di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Contoh lainnya adalah nasib masyarakat adat Dayak Kinipan, gegara eksploitasi hutan untuk perkebunan kelapa sawit. Hijau hutan Kalimantan mendadak berubah kecokelatan yang katanya demi kesejahteraan. Lama kelamaan masyarakat adat Dayak Kinipan akan kehilangan ruang hidup, sebab bagi masyarakat adat hutan adalah rumah. Kodrat manusia adalah hidup berdampingan dengan alam, tidak hidup untuk menaklukkan alam. Sementara itu, ilmuwan-ilmuwan terkemuka di dalam Jurnal Nature edisi September 2009 telah menetapkan sembilan ambang batas kritis dari sistem planet, yaitu 1) perubahan iklim; 2) pengasaman air laut; 3) penipisan ozon di stratosfer; 4) batas aliran biogeokimia; 5) penggunaan air bersih global; 6) perubahan pemanfaatan lahan; 7) kehilangan keragaman hayati; 8) pelepasan aerosol ke atmosfer; dan 9) polusi kimia. Tiga di antaranya (perubahan iklim, keragaman hayati, dan batas aliran biogeokimia) telah melewati batas ambang kritis, sedangkan enam sisanya sudah sangat mendekati ambang batas kritis.
Artinya, planet bumi sedang sekarat dan manusia malah berencana untuk membunuhnya tanpa pernah menyadari bahwa ia sedang melakukan bunuh diri secara massal. Setidaknya, harapan yang masih tersisa adalah kebersediaan generasi muda untuk kembali memperlakukan alam sebagai subjek tidak sebagai objek. Atau bersetuju dengan gagasan Kuntowijoyo (2019) dalam Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas bahwa alam perlu kembali diperlakukan sebagai subjek sekaligus objek.
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.
LANGGANAN