Seingatku sejak duduk di bangku sekolah dasar, aku belajar teori bahwa membuang sampah dapat menyebabkan banjir. Lalu, menebang hutan membuat tanah longsor dan kiat-kiat menjaga lingkungan jadi tampak lebih sederhana. Beranjak ke sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas belajar tentang krisis iklim. Semuanya teori, tidak ada contoh nyata yang ditampilkan.
Aku tidak tahu bagaimana efek rumah kaca membuat suhu bumi semakin memanas. Aku juga tidak tahu bagaimana banjir rob bisa muncul. Aku tidak tahu efek dari mencairnya es di kutub-kutub bumi. Aku tidak tahu banjir bisa datang secara tiba-tiba dan menerjang apa saja. Aku tidak tahu bahwa tata kelola kota berpengaruh pada lingkungan. Aku tidak tahu itu semua. Aku tidak peduli dengan huru-hara iklim.
Sekolah hanya mengajarkan teori-teori singkat dan tidak mengajarkan bagaimana bersiasat menghadapi krisis iklim. Bagaimana cara bertahan di suhu bumi yang semakin memanas? Bagaimana menghemat energi? Bagaimana cara bijak menggunakan air? Bagaimana jika hutan digundul, nasib hewan di dalamnya serta dampaknya yang tidak hanya sebatas tanah longsor? Lagi-lagi aku buta soal itu. Aku tidak tahu apa-apa.
Setelah duduk di bangku perkuliahan, aku tidak sengaja bersinggungan dengan novel karya Jostein Gaarder berjudul Dunia Anna. Melalui buku itu, aku tersadar bahwa bumi tidak akan berumur panjang. Bukan karena akan segera kiamat, tetapi bumi tidak lagi layak huni beberapa tahun ke depan. Gaarder mengajakku untuk turut membayangkan rupa bumi puluhan tahun silam dan keadaan bumi di masa depan ketika krisis iklim telah memengaruhi kehidupan manusia. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa orang-orang di timur tengah mulai bermusafir sebagai pengungsi iklim karena daerah asalnya sudah tidak layak huni akibat minyak bumi dikeruk habis-habisan.
Aku makin sadar bahwa krisis iklim nyata ketika halaman rumahku tergenang oleh banjir rob. Jarak antara rumahku dengan bibir pantai kurang lebih 3,5 km. Sejak tahun 2020, air laut pelan-pelan masuk ke dalam rumah, lalu ke luar lagi. Esoknya atau beberapa hari ke depan akan masuk lagi, kemudian ke luar lagi. Ibu, bapak, adik, dan aku bergantian menguras rumah dan membersihkan sisa banjir rob. Lemari, dipan, meja, dan barang-barang rumah lainnya terendam banjir rob. Untuk mencegah kerusakan, bapak, dan ibu berinisiatif mengganjalnya dengan bata putih atau mengecor lantai untuk meninggikan barang.
Akibatnya, lantai di rumahku tidak rata. Beberapa bagian lantai rumah ditinggikan dengan menguruk menggunakan batu padas yang dibeli dengan menyisihkan uang rumah tangga. Di bawah pintu rumahku pun dicor setinggi kurang lebih 15 cm untuk menghalau air rob masuk ke dalam rumah. Namun upaya itu tidak jarang sia-sia, air laut merembes melalui lantai, tembok, dan celah rumah mana saja. Rumahku tetap terendam banjir rob.
Penyelesaian paling mudah yang dilakukan oleh keluargaku dan sebagian besar tetangga yang terdampak rob adalah dengan meninggikan lantai rumah. Mereka yang tidak bisa meninggikan rumah akan terus hidup berdampingan dengan banjir rob. Banjir rob tidak hanya menggenangi rumah, tetapi juga jalan penghubung antardesa bahkan jalan utama yang menghubungkan desa Morodemak, Purworejo, dan Gebang dengan pusat Kabupaten Demak. Aku dan masyarakat pesisir lainnya seperti diisolasi. Kami tidak bisa ke mana-mana. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena jalanan tidak pernah kering dan licin sehingga berisiko untuk dilewati.
Aku tinggal di kawasan pesisir Kabupaten Demak, tepatnya di Desa Gebang, Kecamatan Bonang. Di sana tidak ada pabrik besar, hanya ada kurang lebih tiga industri pengawetan ikan dan beberapa industri rumah tangga yang melakukan proses pengawetan ikan. Namun, dampak dari banjir rob cukup membuat kewalahan. Dalam kurun waktu kurang lebih sepuluh tahun, banjir rob hanya terjadi di titik tertentu di Desa Morodemak dan Purworejo yang menjadi desa terakhir sebelum laut. Di masa itu, banjir rob masih bisa surut dan jalan bisa dilalui kembali. Namun, sejak 2020 banjir rob mulai menggenangi jalan dan tidak bisa surut kembali. Batas antara jalan dan sungai lenyap.
Pakar kelautan Undip, Muhammad Helmi dalam buku Maleh Dadi Segroro: Krisis Sosial-Ekologis Kawasan Pesisir Semarang Demak mengatakan bahwa laju abrasi di Demak semakin cepat karena adanya bangunan yang menjorok ke laut, terutama di kawasan Semarang. Dalam buku tersebut juga disebabkan karena adanya amblesan tanah karena ekstraksi air tanah.
Mila Karmilah, Kaprodi Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Unissula mencoba mengurai penyebab banjir rob di kawasan Demak. Menurutnya, banjir rob di kawasan Demak, khususnya Kecamatan Bonang disebabkan oleh perubahan arus. Jika dulu, arus masih bisa ditahan oleh Pelabuhan Tanjung Emas dan Sayung. Namun, ketika beberapa dukuh di Desa Bedono tenggelam maka air laut bergerak ke arah Timbulsloko sampai ke Kecamatan Karangtengah, dan berakhir masuk ke Kecamatan Bonang.
Dugaan juga mengarah pada pembangunan tanggul dan tol Semarang-Demak yang justru memperparah banjir rob di beberapa desa di Kecamatan Bonang. Pembangunan tersebut menyebabkan penurunan muka tanah sehingga air laut akan mudah menggenangi jalan dan pemukiman warga. Penurunan muka tanah sendiri terjadi karena tanah belum kompak sehingga akan terus mengalami penurunan sampai pada posisi yang telah padat dan kompak.
Ketimpangan pembangunan antara Kota Semarang dan Kabupaten Demak juga turut memperparah banjir rob. Kota Semarang memiliki 43 rumah pompa dengan 78 mesin pompa. Sedangkan, Kabupaten Demak tidak memiliki pompa air satu pun untuk menyedot banjir dari daratan ke laut lepas. Pompa air cukup efektif untuk menangani banjir di Kota Semarang, tetapi tidak dengan Kabupaten Demak. Pembangunan seharusnya terintegrasi dengan wilayah lainnya, khususnya Kabupaten atau Kota tetangga.
Aku hanya berharap ada solusi yang masuk akal dan tepat untuk mengatasi banjir rob. Jika terus meninggikan rumah, kemungkinan besar kami yang berada di kelompok ekonomi menengah ke bawah akan kewalahan. Uang yang seharusnya untuk keperluan pendidikan atau tabungan masa depan akan lenyap begitu saja.
Jika ada yang bertanya, kenapa tidak pindah rumah saja? Pindah rumah juga bukan solusi yang tepat karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika daerah baru jauh dari tempat mencari nafkah. Juga tentang kenangan dan keterikatan batin dengan daerah tinggal yang berat untuk ditinggalkan. Kenangan-kenangan itu bukan wujud romantisasi, tapi rumah dan lingkungan di sekitarnya dapat menjadi tanda bahwa aku, bapak, ibu, dan adik berjuang mewujudkan mimpi dan bertahan hidup di rumah.
Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.
LANGGANAN