Empat es batu bergoyang-goyang
dalam tubuh
Berdansa di danau perut
Danau yang siap diseruput
Agar segera surut segala carut-marut
Sebelum maut menjemput
Kusaksikan, Telinga tubuh itu terangkat
Diam tanpa suara rengekan
Tubuh danau selalu siap menahan
Beban goyang dan gendongan
Digendong mendekati lobang
menjadi cikal-bakal air terjun
Ke dasar hunian
Cuaca di luar panas
Huru-hara terowongan terasa suram
Berdemo besar-besaran
Karena daerahnya kering-kerontang
Sebab, air danau
belum terjun ke aliran sungai terowongan
Saat air itu mengalir
Warga desa terasa bahagia
Mendengar berita hilangnya derita
Terangkatnya sungai surut, kembali berair
Menguap mengalir ke dalam rongga-rongga sawah dan ladang
Membentuk aliran energi-energi
Guna hidupkan pohon pemompa udara Kesehatan
Pada suatu masa, hilangnya mata air
menjadi air mata durjana di seluruh dunia
(2023)
Saksi II: Rusaknya Alam Raya
Aku melihat Musa berjalan
Lewati
sungai-sungai kering
Bukan sebab tongkat Musa tertancap
Melainkan sebab air sudah
malas dengan tingkah pongah manusia
Aku berjalan mendatangi Nuh sebagai nelayan
Ia tampak murung, melihat kapalnya menganggur
Bukan tersebab air bah Tuhan telah menelan putranya
Melainkan kapalnya tak mampu lagi berlayar
Sebab kapal telah beralih fungsi menjadi rumah
Penampungan manusia
Aku berlayar bertemu Adipati Unus
Ia tembaki tembok-tembok kapitalisme
Melawan penjajah-penjajah kaum papa
Keserakahan merajalela
Pati Unus pun mati di seberang sana
Aku terpana saat berlabuh di Batavia
Kota yang telah berubah keelokannya
Pangeran Jayakarta merasa pilu
Jakarta-nya sudah tak se-eksotis dulu
Tersebab kerakusan manusia, membalak pohon
Menjadi kanal-kanal Amsterdam
demi keuntungan Kapital-kapital dagang
Kini panas bumi menjadi saksi
Rusaknya alam raya yang indah ini
(2023)
Saksi III: Ajal Bumi Kian Datang
Aku membaca koran
Katanya sungai-sungai kering-kerontang
Cuaca mendidih menindih
Bukan hanya karena hutang persuratkabaran menumpuk dan kemiskinan timpang
Melainkan banyak pohon-pohon tumbang
Tersebab melelehnya lendir kekuasaan pada kerakusan dan keserakahan
Aku berjalan, di jalanan gersang
Di selokan-selokan, air telah menjelma koka-kola
Di sekolahan-sekolahan anak-anak meminum keringatnya
Tersebab hujan lama tak tiba, dan tetumbuhan banyak yang telah wafat
Karena hutan kita sudah tidak pernah sehat wal afiat
Hingga ajal hutan semakin lama semakin mendekat
Mataku mengucur, membanjiri kubur-kubur leluhur
Bunga ajal telah datang
Bunga ajal telah datang
Membentang ajal bumi terpandang terpampang
Ajal bumi kian datang
Ajal bumi kian datang,
menjemput insang dunia
yang mati
kering-kerontang
(2023)
Muhammad Rifqi Sa'dullah, penulis pemula asal Demak, Alumni Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo. Manusia dengan cuaca tak tentu yang senang overthinking dan bicara sendiri (sampai pernah dianggap gila) mengenai berbagai hal dan peristiwa-peristiwa masa kini, terutama hal ihwal kehidupan maupun arus viral informasi. Pernah menulis beberapa buku puisi (yang mungkin entah pantas atau tidak disebut puisi?), salah satu bukunya adalah Teropong Kontemplasi.
LANGGANAN