Dua bahkan tiga ratus tahun lalu,
tak terbayangkan kita duduk sejajar;
(kau perempuan kaukasia, dan aku
pria Indonesia) - di Taman Gajah,
di samping Sungai Cisadane,
lalu sama menyimak– ke tepi sebelah mana
plastik-plastik tak berharga tertambat
dan tak bisa mencemari laut?
Tak terbayangkan juga – kita sama
terkejut akan fakta: saat ini 17 dari 22 orang
dari kita mengalir microplastic
dalam darahnya!
Dan semenit dari mulai bicara – kutahu
kita sama-sama peduli lingkungan; tapi
tak seorang pun dari kita bisa mencegah
seorang bapak membakar timbunan
sampah plastik di seberang sungai.
2024
Tangerang Selatan 33 C
Berderaulah, Kipas Anginku,
siang ini kubiarkan kau bersuara
karena udara terasa panas tak biasa.
Padahal aku tahu, Kipas Anginku,
agar kau bisa berputar, dibakar 11 juta
ton batu bara api bulan di PLTA,
tapi aku tak kuasa mendinginkan
Tangerang Selatan yang sudah 33 C hari ini.
Berderaulah, Kipas Anginku,
dalam puisi ini – agar orang paham,
betapa risau aku memikirkan
kelestarian bumi.
2024
Biodata Penyair
Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal sekarang mukim di Tangerang. Menulis puisi sejak 2006 dan sempat bergabung dengan berbagai komunitas sastra seperti BuMa (Bunga Matahari), Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSaR Malam) atau Reboan, ApSas (Apresiasi Sastra), juga Warung Puisi. Puisi-puisinya telah dimuat di media nasional baik cetak maupun daring. Pernah didapuk sebagai penyair berbakat juga penulis puisi terbaik beberapa situs sastra, dan bersama sastrawan Hasan Aspahani membidani beberapa situs sastra seperti Lokomoteks dan Mata Puisi. Karyanya yang telah dibukukan salah satunya berjudul "Apalah Kita di Bawah Hujan" (Rua Aksara, 2023).
LANGGANAN