×

Langganan Artikel Bukit Buku

Rumah Paling Asing

Rumah Paling Asing

Katamu, kau sudah asing 

dengan rumahmu 

Katamu, hutan mudah ditebang 

Lalu suatu saat tumbuh lagi 

Katamu langit luas, udaranya mudah berganti 

dengan bebas

 

Katamu, kau sudah asing 

dengan rumahmu 

Lalu bagaimana jadinya, 

jika laut pula dikuras 

Lalu bagaimana pula jika tanah dikeruk

 

Katamu, ikan-ikan punya rumah 

Hewan-hewan punya tempat berteduh 

Burung-burung punya biru langit 

untuk ditempuh

 

Katamu, kau sudah asing 

dengan rumahmu 

Sudah lama, sudah lama sekali 

Semua orang berpikir 

Sudah lama, sudah lama sekali 

Semua orang menjadi beringasan 

Sudah lama, sudah lama sekali 

Semua orang menjadi sangat pendek 

untuk menghadapi apa saja yang masih panjang 

dan tumbuh menjalar di dunia ini

 

Katamu, kau sudah asing 

dengan rumahmu

Katamu, hutan mudah ditebang 

Katamu langit luas, 

Katamu laut tak pernah habis dikuras 

Tanah tak pernah habis dikeruk-keruk 

Katamu, ikan-ikan punya rumah 

Hewan-hewan punya tempat berteduh 

Burung-burung punya biru langit untuk selalu ditempuh

 

Katamu, kau sudah asing 

dengan rumahmu 

Katamu. Suatu hari nanti. 

Kita akan membuktikan bersama. 

Suatu hari nanti. Ketika kau, 

mungkin sudah kian rakus lagi.

 

Tayu-Pati, Agustus 2023

Setia Naka Andrian, lahir dan tinggal di Kota Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisinya Bermula Kembara Bermuara Kendara (Sangkar Arah Pustaka, 2021) memperoleh nominasi Antologi Puisi Terbaik Prasidatama 2022 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Buku puisi terbarunya, Apakah Surga itu Sebuah Agama (Sangkar Arah Pustaka, 2022). 

 

Footer