×

Langganan Artikel Bukit Buku

Cerpen

Cerpen merupakan singkatan dari cerita pendek. Nah, cerita pendek atau cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi. Maksudnya, isi cerpen bukanlah kejadian nyata, melainkan hanya karangan atau imajinasi penulisnya.

Terapung (Cerita Terjemahan karya Kim Steutermann Rogers) CERPEN

Terapung (Cerita Terjemahan karya Kim Steutermann Rogers)

Terapung Saat itu adalah tahun Ketika banjir menyapu di rumah-rumah di sepanjang hilir ungai. Mereka menyebutnya sebuah bom hujan. Rumah Kate berada di urutan yang keempat. Kate mengikuti tiga perempuan lainnya yang tidak mampu atau tidak mau meninggalkan rumah mereka yang dulu masih sejajar dengan sungai terbesar di pulau tropis mereka. Kate mencoba mengangkatkan telepon, namun tak ada panggilan yang dapat tersambung. Bibi Lani, yang rumahnya di depan rumah Kate, melemparkan sebuah tali kepada Kate, begitulah bagaimana keempat wanita mengikat rumah mereka, kehidupan mereka, nasib mereka bersama-sama. Pemandangan yang tak biasa. Empat rumah, semua memiliki nuansa hijau, rumah-rumah itu mengarah ke sebuah teluk berbentuk bulan sabit dengan latar berlanskap pegunungan yang dibelah air terjun. Oh, air terjun itu, begitu tampak seolah lapisan gula yang mengalir di sebuah lipatan kue pon. Selain makanan dan air, setiap orang mengemasi perlengkapan siaga bencana hari-hari ini. Setiap orang mengisi bak mandi mereka setiap sirine memperingatkan akan terjadinya bencana alam. Setiap orang paham bahwa bencana semakin sering terjadi. Dulu bencana seperti ini disebabkan oleh badai atau tsunami, namun seiring memanasnya suhu, banjir ekstrem kini menjadi bencana yang lebih mengerikan. Pada sore hari hujan berhenti. Katak-katak naik ke geladak sesaat sebelum malam tiba. Selusin katak merangkak di atas katak lainnya, katak-katak mencari tempat yang aman seolah meminta parawanita pergi ke atap rumah mereka saat matahari terbenam, saat purnama naik di langit timur, melukiskannya dengan sebuah warna post-apocalyptic oranye-emas. Selama makan malam, Jodi berbagi lasagna vegan yang dia masak sehari sebelumnya dengan daun talas dan keju vegan. Kate meracik salad dari sekantong sayur-sayuran, dan tambahan bahan dari mantan pacarnya, sang petani. Para wanita memindahkan makanan itu semuanya dari satu ke yang lain dalm keranjang yang mereka kaitkan pada tali yang saling terhubung satu sama lain. “Suka makanan penutup?” Si Bibi bertanya lalu membagikan roti pisang dengan kacang-kacangan macadamia. Pisang dan kacang-kacangan itu dia tanam di tempat yang dulunya adalah halaman belakang rumahnya. Stephanie adalah orang yang tak mau ribet.  Dia memberi jeruk nipis kepada semua orang sambil berkata bahwa itu cocok untuk mencuci tangan. “Ketika juga bisa.”   Kira-kira pada pukul sepuluh, telepon berdering, dan semua orang mereka sudah berada dalam jangkauan jaringan telepon, namun itu ternyata bunyi alarm Jodi, alarm pengingat untuk mengonsumsi obat melatonin sebelum tidur. Alih-alih, Si Bibi membagikan sebotol Patron. “Aku menyimpannya,” katanya. “Tapi menurutku ini terasa sangat Istimewa.” Stephanie masuk ke dalam rumahnya lalu Kembali dengan keripik tortilla dan salsa. “Senang rasanya ada sesuatu yang masuk di perut,”katanya.   Tak ada yang tidur malam itu, Kate mendengarkan cerita mereka, satu per satu perlahan yang disampaikan seperti permainan telepon masa kecil. Si Bibi sedang dalam proses cerai, yang mana dia belum bisa memutuskan. Suaminya menghabiskan sebagian besar waktu untuk memancing atau balap kano cadik, sebab cinta pertamanya pada laut, klise memang. Stephanie baru saja kehilangan anjingnya yang sakit kanker. Jodi adalah seorang penyintas kanker payudara. Lalu Kate baru saja berpisah dari pacarnya dan kontraknya telah habis, ia mencoba menimbang Langkah selanjutnya. Sebagai ahli biologi musiman, Kate tidak sanggup hidup sendirian di Hawaii. Kate mencoba teleponnya lagi. Tampak tak ada bar. Tak ada yang menanyakan pertanyaan apa yang sedang dipikirkan orang-orang saat ini. Ketika bulan mulai beranjak ke cakrawala, Bibi memasang tali pancing di antara rumah-rumah dan memasanginya umpan katak. Dia belajar beberapa trik dari suaminya yang seorang nelayan katanya. Jika beruntung, dia akan memasak kue aweoweo (kue yang bahan dasarnya dari ikan) dan membuat poke (ikan mentah yang dipotong dadu sebagai sajian utama) untuk sarapan. “Aku punya daun bawang,” kata Kate, peninggalan dari pacarnya. Jodi tak makan ikan semenjak dia mendapati bayi anjing laut mati menelan kail ketika melahap ikan dari tali pancing nelayan. Tapi Jodi menawarkan air cabai. Tepat sebelum bulan lenyap dari pandangan, Kate mendengar suara mendesing dan merasakan ada semburan tetesan yang mengenai tubuhnya. Bau menyengat seolah bersarang di kerongkongannya, dan dia melihat ada seekor paus bungkuk dengan semburat merah mengambang di sekitarnya. Ketika para wanita menyaksikan kejadian itu, seekor paus lain yang berukuran sepertiganya muncul ke permukaan. Mereka mendengar suara ketika anak paus menarik napas pertama kali. Mereka menyaksikan ketika paus kecil itu menyenggol sisi tubuh induknya. Paus itu berguling-guling di permukaan air, mengeluarkan suara sesaat usai matahari terbit. Kate hamper tidak bisa melihat pulau yang dituju, armada mereka telah hanyut jauh di lepas Pantai, tapi dia bisa memandang raut wajah setiap wanita. “Dia layak mendapat lebih banyak Patron,” kata Bibi dan dia pun kembali mengirimkan tequila itu. Sebelum mereka sempat mengecek tali pancing dan berpikir untuk meracik sarapan, mereka mendengar sesuatu. Teriakan. Teriakan. Teriakan. Para wanita itu mendongak dengan rambut yang tertiup angin karena turbulensi baling-baling helikopter. Namun, tak seorang pun berdiri. *Kim Steutermann Rogers tinggal Bersama suaminya dan anjing berusia 16 tahun bernama Lulu di Hawaii. Salah satu esainya mendapat penghargaan dalam Best American Travel Writing. Tulisan-tulisan jurnalistiknya telah dipublikasikan di berbagai media seperti National Geographic, Audubon, dan Smithsonian. Prosa-prosa fiksinya juga telah dipublikasikan di berbagai media massa. Beberapa kali dia juga sempat mengikuti residensi di berbagai tempat di belahan bumi seperti di Alaska. Kim bisa ditemui di sosial media dengan nama @kimsrogers.   Bio penerjemah: Ganjar Sudibyo, seorang pekerja buku yang saat ini tinggal Bersama seorang istri dan balita di sebuah desa di Bantul yang sedang giat mencintai buku, ladang rumahan, dan kucing-kucing. Buku puisinya akan terbit sebelum penghujung tahun 2024 ini.

Baca Selengkapnya
Lautan Menjulang (Cerita Terjemahan karya Anita Goveas) CERPEN

Lautan Menjulang (Cerita Terjemahan karya Anita Goveas)

Yang pertama ialah seekor Paus Beluga, pengunjung dari Greenland. Dia tinggal di muara Sungai Thames, memangsa ikan air tawar dan ikan gudgeon serta rongsokan yang dijatuhkan dari tongkang-tongkang. Orang-orang membaca berita itu di web, kemudian pergi berbondong-bondong memotret dan merekam, membicarakan tentang makhluk air yang indah itu, sebuah cerminan kekuatan alam, dan betapa mereka diliputi keberuntungan bisa melihat makhluk itu sekali seumur hidup. Paus itu bersenandung melalui mikrofon dan telinga yang bahasanya tak terpahami, lagu-lagu tentang sanak saudara mereka yang hilang, sumber-sumber makanan yang habis, dan bagaimana air laut terus-menerus naik. Yang kedua ialah sebuah segel dermaga berwarna keperakan, pantulan cahaya dari urat dan ototnya seperti untaianmu mutiara di bawah dermaga dan jaring-jaring ikan. Media Southend Herald menayangkan cerita indah tentang lanskap itu dari seseorang yang datang dari sebuah daerah bernama Moray Firth. Orang-orang berhenti memotret usai muncul rumor tentang bayangan yang keluar dari bulu abu-abu samar pada malam hari. Sesuatu berputar-putar di arus bawah sana, menyumbat saluran air. Sesosok manusia menghantui jalanan yang diterangi Cahaya bulan dan bermimpi tentang suatu wilayah yang bernama Leigh-on-sea, ia meronta tentang hilangnya lahan pertanian, hilangnya hasil panen, dan bagaimana lautan naik. Naga dengan banyak kepala berguling-guling di tengah air pasang yang membawa berita tentang banjir di Bangladesh, badai di Florida, dan tanah longsor di Bolivia. Orang-orang melarikan diri secara bergiliran dari Benfleet, Tilbury, Gravesend saat ia menghancurkan perahu dengan sapuan ekornya dan matanya yang dingin. Benda-benda melayang berlalu-lalang, tas, ponsel pintar, kamera.   Ia meringkuk di Tower Bridge, sebuah benda besar di langit yang sangat luas. Berat perutnya mendorong air hingga meluap ke jalan, melewati mobil dan sepeda yang ditinggalkan. Ia berjemur di bawah sinar matahari yang tak dapat dirasakannya di dalam gua yang dalam—tempat ia tinggal sebelum lautan menyebabkannya naik. *Anita Goveas, adalah seorang yang berdarah Inggris-Asia, ia tinggal di London. Bukunya pertama kali terbit di London Short Story Prize Anthology. Dia adalah seorang redaktur untuk Flashback Fiction. Bio penerjemah: Ganjar Sudibyo, seorang pekerja buku yang saat ini tinggal Bersama seorang istri dan balita di sebuah desa di Bantul yang sedang giat mencintai buku, ladang rumahan, dan kucing-kucing. Buku puisinya akan terbit sebelum penghujung tahun 2024 ini.

Baca Selengkapnya
Salju Bukit Kapur CERPEN

Salju Bukit Kapur

Nadhila Hibatul Nastikaputri Bulir-bulir keringat yang membasahi dahi kuseka. Ayunan Blangkah makin kuperpanjang. Bahkan adakalanya aku harus menyeret kaki karena keduanya terlalu enggan untuk diajak menapak kembali. Bagaimanapun juga, saat ini mereka harus tegak menopang badan, setidaknya demi menahan diri dari kelimbungan. Sebab, perjalanan ini belum mencapai separuhnya. Kira-kira, aku harus berjalan dua kilometer lagi untuk mencapai belik air yang beberapa hari lalu ditemukan seorang warga di dusun kami. Maka, aku terus mengayun langkah, membawa tiga buah jeriken kosong, sekerat harapan, dan rasa kering yang menggigit kerongkongan. Gugur daun jati bertumpuk menutupi separuh jalan setapak putih yang kulewati. Sesekali angin berembus pelan, menebarkan hawa kering, menerbangkan dedaunan kuning kecoklatan yang terserak tak berdaya di tanah rekah itu. Pelan tapi pasti, aku terus menapak menembus hutan jati, menimbulkan suara gemerisik daun yang terinjak kaki. Ketika mencapai area tegalan, langkahku terhenti. Di sana, di hadapanku, bukit kapur yang tinggi menjulang itu, kini hanya tersisa seperempatnya. Terang saja demikian, sudah hamper tiga tahun perusahaan tambang batu gamping dari orang-orang kota mengangkangi dusun kami. Siang dan malam, mereka tak hen mengeruk gugusan bukit kapur yang mengitari dusun ini. Menurut selentingan kabar yang kudengar dari bisik-bisik warga, izin perusahaan tambang itu sudah habis setahun lalu. Namun, nyatanya sampai saat ini, alat-alat berat mereka masih terus menggerus bukit kami. Meski begitu, aku dan warga dusunku tetap membisu. Kami pura-pura menutup mata atas kejanggalan yang kami dapati. Bukan berarti kami terima. Dari sejumlah mahasiswa dan pegiat lingkungan yang pernah menyambangi dusun ini, kami menjadi paham jika penambangan gamping yang berlebihan dapat membuat air tanah sulit tersimpan. Jadi, pendek kata kami membisu bukan karena setuju, tapi karena kami tak punya pilihan. Sebab kami sama-sama menyadari bahwa perusahaan tambang gamping itulah yang menjadi denyut kehidupan bagi hampir seluruh warga di dusun ini. Andaikata Mbah Kakung tidak bekerja di sana, sudah barang tentu aku turut serta aksi demo serombongan aktivis yang menyuarakan penutupan perusahaan tambang itu. Akan tetapi, aku bahkan merasa tak berhak untuk sekadar membenci pemilik tambang yang telah memberi pekerjaan pada kakekku. Terkadang, Ketika membayangkan kami sekeluarga tak bisa makan karena tak punya pemasukan, hatiku menjadi ngilu. Maka begitulah, selama tiga tahun, aku dan warga dusunku tetap membisu. Firman baru saja menyorongkan mobil-mobilannya manakala aku tiba di teras rumah. Anak berusia dua tahun itu tersenyum melihatku kembali menenteng tiga jeriken penuh air. Tangan kecilnya serta merta mengulur mobil berukuran mini yang dibawanya kepadaku. Aku menggeleng, menyimpul senyum, mengusap kepalanya, “Sebentar ya dik, Mba Ayom ngisi bak dulu. Nanti ya mainnya.” Ia mengangguk, sama sekali tidak memprotes, lalu Kembali memainkan mobil mainannya seorang diri. Aku bersicepat membawa jeriken-jeriken air ke belakang rumah. Air dari jeriken-jeriken lantas dituang ke bak penampungan. Aku menelan ludah, air yang kuperoleh dengan susah payah ini sebetulnya jauh dari kata layak. Warnanya keruh, bercampur dengan tanah dan butiran pasir dari dasar belik. Tapi mau bagaimana lagi, hanya air ini yang tersisa. Musim kemarau telah berjalan hampir dua bulan. Semakin hari, mencari air di sini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Sulit sekali. Barangkali, letak dusun ini yang berada di ujung kabupaten dan berada di wilayah perbatasan dengan provinsi lain, menjadi alasan dropping air dari pemerintah tidak kunjung datang. Mungkin juga kondisi jalan yang masih berupa setapak menyulitkan truk-truk tangka pemerintah mengirim air ke dusun kami. Begitu kira-kira, aku menerka. “Tadi kamu dapat air di telaga?” suara berat laki-laki menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh, Mbah Kakung sudah berdiri di sampingku. “Tidak, Kung. Di Telaga sudah benar-benar tidak ada air. Telaganya sudah asat, habis airnya. Aku mencarinya di belik ujung desa. Sumber baru yang kemarin ditemukan istri Pak Kepala Dusun.” Laki-laki tujuh puluhan itu mengulum senyum, “Syukurlah masih ada air untuk kita.” “Tapi, Kung, aku tak bisa memastikan sampai kapan air di belik itu terus ada. Air ini saja hanya dapat sisa. Semoga air gratis dari pemerintah itu segera datang.” Kudengar helaan napas berat dari kakekku. “Begini ya, Ndhuk. Kakung tidak tahu pasti kapan dropping air dari kabupaten akan datang. Yang jelas, sebisa mungkin kita harus dapat air bersih. Kamu tahu, to, Firman tidak boleh minum air kotor lagi.” Aku mengangguk, mengamini apa yang dikatakan kakekku itu. Firman, adikku, memang harus selalu diberi air minum steril saat ini. Semenjak ia terserang disentri, asupan makanan dan kebersihan lingkungannya perlu diperhatikan. Kira-kira itulah yang dikatakan seorang dokter empat hari lalu ketika kami membawa Firman berobat ke Puskesmas. “Apa tadi Firman masih diare, Kung? Kulihat dia sudah bisa bermain di depan.” “Alhamdulillah, tidak lagi. Semoga adikmu betul-betul sembuh kali ini.” “Ya, semoga begitu.” “Tapi, Ndhuk, andaikata adikmu nanti kambuh lagi, mau tidak mau kita harus membawanya ke rumah sakit di kabupaten. Itu saran dari Bu Dokter kemarin di Puskesmas.” Kepalaku terangguk kembali. “Iya, Kung. Aku mengerti.” “Ayom?” “Iya, Kung?” “Air di bak penampungan hujan kita sudah habis. Satu-satunya telaga harapan kita juga sudah asat. Lalu katamu, air di belik baru juga sudah keruh. Jadi, kalau dalam beberapa hari ini air bersih dari pemerintah itu ndak datang, keputusan itu harus tak ambil, Ndhuk. Mau tidak mau Kakung harus jual wedhus kita untuk bisa sewa tangki air dari tetangga.” Garis keningku seketika bertaut, “Jangan dulu, Kung. Tunggu beberapa hari lagi. Jangan buru-buru ambil keputusan begitu.”  “Ndak bisa, Ndhuk. Kasihan adimu. Dia harus dapat air bersih.” “Tapi, tapi, kambing itu tinggal satu. Kemarin Kakung sudah menjual satu kambing kita untuk menutup gagal panen.” “Seandainya, sewa tangki air dari tetangga kita itu bisa lebih murah. Seandainya air gratis itu cepat datang. Tentu Simbah ndak akan menjualnya. Tapi tidak ada pilihan lain sekarang.” Suara Kakung mengambang. Ada kegetiran yang kutangkap dari kata-katanya. “Percaya Kung, percayalah. Aku punya keyakinan minggu ini air gratis itu akan sampai di dusun kita.” “Tapi kapan? Dua, tiga, empat, lima hari? Apa Firman selama menunggu juga mau kita beri air keruh itu lagi? Begitu ya, maumu? Aku tertunduk, “Bukan, bukan begitu. Hanya saja, bukankah kambing itu peninggalan Bapak?” “Oh, jadi kamu lebih mementingkan laki-laki yang kepincut sundal itu ketimbang adikmu? Orang yang jelas-jelas membuat ibumu sengsara, kamu masih peduli padanya? Kamu sudah lupa bagaimana dia tega meninggalkan kamu dan ibumu yang tengah hamil tua? Iya, ha?!” Tenggorokanku tercekat. Lidahku terasa kelu untuk menjawab pertanyaan terakhir dari kakekku. Untuk beberapa detik hanya desau angin yang menyahut di antara percakapan kami yang terhenti. Kebisuan kami tetiba buyar oleh suara tangis dari dalam rumah. Firman menangis. Disusul teriakan perempuan memanggil-manggil. Dari suaranya aku tahu itu panggilan dari nenekku. Mbah Kakung berlari masuk ke dalam rumah, aku mengikutinya. Kulihat nenek berusaha membopong Firman. Tapi ia urung setelah melihatku muncul bersama Mbah Kakung. Adikku itu meringkuk memegangi perut, ia mengerang. Aku meraih tubuhnya. Ketika kugendong Firman terasa semakin berat, kaki dan tangannya terasa dingin, wajahnya pucat pasi. Kubawa Firman menuju kamar mandi. Betul, ternyata dia diare lagi. Saat hendak mengguyur kudapati cairan merah segar berceceran di kloset. “Ya Tuhan!” aku berteriak memanggil Mbah Kakung dan Mbah Putri. *** Lekat-lekat kuamati satu-satunya kambing peninggalan Bapak yang tengah merumput di tanah lapang. Pandanganku terpaku padanya yang terus mengunyah rerumputan kuning bersemu kecokelatan. Sejak tadi, aku tidak berhenti menimbang-nimbang. Apakah kambing ini akan tetap menjadi harta simpanan kami atau akan menjadi milik tetanggaku. Masalahnya bukan hanya sewa tangki air saja kali ini. Sudah dua hari ini Firman dirawat di rumah sakit kabupaten. Adikku itu terus-terusan merintih sejak dibawa ke sana. Disentri yang ia derita sepertinya membuat tubuh anak itu semakin layu saja. Kepalaku seketika terasa berdenyut-denyut. Aku duduk bersila dan mengatur napas. Kusandarkan punggung pada batang randu yang tumbuh rimbun di sudut lapangan. Pandang kulayangkan jauh ke depan. Dari arah seberang, mataku menangkap dua truk tangki berjalan beriringan. Sepertinya kendaraan besar dengan selang raksasa itu benar-benar dropping air dari kabupaten. Aku bangkit lantas gegas menyeimbangkan badan. Bila ingin mendapat jatah air mencukupi aku harus bergerak cepat. Jangan sampai tetanggaku menyerbu terlebih dahulu dan aku hanya mendapatkan sisa. Maka, detik itu juga, setelah memastikan tali dadung yang mengikat leher kambingku aman, aku melesat ke rumah. Dering ponsel terdengar saat aku mengambil jeriken-jeriken di belakang rumah. Kurasa panggilan telepon itu tidak lebih penting dari tugasku saat ini untuk mengambil jatah air. Maka kubiarkan ponsel itu terus berdering sampai aku mengunci pintu rumah. *** Empat buah jeriken yang kubawa telah terisi air dari truk-truk tangki kabupaten. Aku meletakkan jeriken-jeriken itu di belakang rumah. Kata Kepala Dusun, lusa truk tangki air dari pemerintah akan datang lagi ke dusun kami. Bagiku, air yang kuperoleh hari ini cukup untuk persediaan Firman bila nanti ia dibawa pulang ke rumah. Setidaknya, cukup sampai dropping air itu ada lagi. Dan itu artinya, kambing peninggalan Bapak juga tidak perlu berpindah tangan ke orang lain. Ponselku berdering kembali. Aku lupa jika tadi meninggalkan rumah tanpa mengangkat panggilan itu. Tanganku bergegas meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Ada empat belas panggilan tak terjawab dari nomor yang tak kukenal. Hatiku mencelus. Jantungku tiba-tiba berdegup tidak karuan. Sebuah pesan masuk. Jemariku bergetar membukanya. Benar, aku harus segera ke rumah sakit.   Nadhila Hibatul Naskaputri, perempuan Gunungkidul yang menyukai senja dan kerlip lampu kota. Pernah mengenyam pendidikan formal di prodi Sastra Indonesia UNY dan prodi Magister Sastra UGM. Saat ini berprofesi sebagai editor lepas merangkap peneliti sastra yang memfokuskan kajiannya pada interteksualitas, ekofeminisme sastra, dan ekologi sastra. Kabarnya bisa di tengok di Instagram @nadhilaputri21 (087876119295).

Baca Selengkapnya
Upa CERPEN

Upa

Christya Dewi Eka   Terus, terus ke dalam hutan Kirihono. Dada Upa berdesir. Bulu Tkuduknya meremang. Ia berdoa semoga tidak bertemu lelembut atau hewan buas. Menyadari dirinya sedang dikejar, sosok asing itu tertawa. Tengu? Upa memicingkan mata. Seperti manusia tapi bukan manusia. Larinya tidak terlalu kencang. Dada Upa berdesir. Meski penasaran, ia berharap tidak menemui sosok berwajah merah dan berhidung panjang. Lebih baik bertemu perampok daripada tengu. “Ayo, Upa!” Bukan tengu rupanya. Suara itu tidak asing di telinga Upa. “Kau rupanya!” bentak Upa. “Sabar! Ikuti aku!” Bersama Toho, Upa menghilang di kegelapan. Malam semakin larut. Upa bermaksud membongkar rahasia Toho yang diduga mencemari sungai. Upa terbelalak. Di tengah hutan ada pabrik baru. Selama ini, menurut sangkanya, hutan Kirihono adalah hutan sunyi yang dihuni makhluk halus. Bahkan, seluruh penduduk Desa Kaba pun meyakini itu. Tidak heran jika mereka ketakutan merambah isi hutan. Mereka juga menyadari bahwa lingkaran kehidupan manusia bergantung pada alam dan berusaha sekuat tenaga menjaga kebersihan sungai, hutan, desa, dan lingkungan sekitar. Lantas, manusia kurang ajar dari mana yang berani membangun pabrik di tengah hutan? Bisa dipasti kan, bukan berasal dari Desa Kaba! Upa semakin penasaran ingin melihat wajah orang-orang di balik pabrik baru. Bagai raksasa, pabrik itu menjulang tinggi besar di antara rerimbunan pohon. Diterangi Cahaya bulan, samar-samar Upa melihat aliran buangan pabrik menuju anak sungai Kirihono. “Ooo, jadi ini penyebab keruhnya air sungai. Sepertinya, endapan pasir bercampur sisa-sisa semen dibuang begitu saja ke sungai,” pikir Upa mencoba membaca situasi yang membingungkan tersebut. “Selamat datang, Kawan,” seorang lelaki asing menegur Upa ramah. Upa terperanjat. “Ayolah minum sambil berbincang-bincang. Tubuhmu penat, bukan? Seharian bekerja membersihkan sungai tanpa bayaran, apa tidak jemu?” Upa bungkam. Geram. Si lelaki asing terkekeh seraya meletakkan segelas minuman dingin dalam genggaman Upa. “Segelas arak manis, bisa meredakan lelahmu, Kawan.” Upa mencium bau minuman memabukkan dari mulut si lelaki asing. Tanpa peduli jika jatuh mabuk, lantaran tak kuat menahan haus, Upa langsung meneguk minuman itu. “Lebih sedap jika ditambah ubi rebus.” Lagi-lagi, Upa tak kuasa menolak. Ia sangat haus dan lapar. Udara bertambah dingin menusuk tulang. Lalu, tanpa basa-basi, ia lahab ubi rebus itu. Perutnya sudah tertolong. Hampir kenyang. Upa berangsur-angsur tenang. “Mengapa kalian membuang limbah ke sungai?” tanya Upa ketus pada Toho. Toho terbahak-bahak, “Kau salah lihat, Upa! Tidak mungkin aku mengotori sungai.” Lelaki asing tadi tersenyum lalu mengajak Upa ke dalam pabrik. “Lihat, Kawan! Ini pabrik kertas yang baru saja selesai dibangun. Namanya pabrik, tentu ada limbah. Tapi tak usah khawatir,” sergah si lelaki cepat, “pabrik ini menggunakan teknologi pengolahan limbah mutakhir. Limbah yang mengalir ke sungai sudah tersaring. Air sebening kaca. Aman. Ikan saja bisa berenang di dalamnya.” “Apa buktinya?” tanya Upa. Upa diajak memasuki bagian samping pabrik. “Ini kolam ikan dari limbah pabrik yang sudah disaring. Jernih, bukan? Kau tahu, harga mesin pembersih limbah lebih mahal dibanding seluruh aset Desa Kaba.” “Lalu?” “Nah, aku minta tolong kau tanda tangani surat persetujuan pendirian pabrik. Kuanggap, kau dan Toho adalah wakil desa yang tepat. Toho adalah putra pemimpin desa, kau adalah penjaga kebersihan sungai. Toho sudah setuju. Kuharap kau pun setuju bila limbah bening itu disalurkan ke Sungai Kirihono. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan buku cerita dan alat tulis gratis kepada seluruh warga desa, dan ah,” bisik si lelaki asing dekat dengan telinga Upa, “kau belum beristri, kan? Aku bisa mencarikan gadis kota sebagai pasanganmu, hehehe.” Wajah Upa memerah. Toho tersenyum simpul sambil melirik Upa penuh arti. Ikan-ikan melompat riang. Air di kolam mencerminkan bayangan Upa. Memang, Upa merindukan pembaruan. Ia ingin seluruh anak Desa Kaba lancar dan gemar membaca. Tidak hanya menghabiskan waktu dengan bermain dan bekerja, tapi memiliki sorot mata kemilau karena terisi ilmu pengetahuan, imajinasi, dan cita-cita. Tangan Upa menggenggam pulpen dengan ragu. Tanda tangannya adalah penentu! Bila ia setuju, Desa Kaba akan memperoleh buku-buku dengan mudah dan gratis. Bagi penduduk desa selama ini, buku adalah barang mahal. Yang diutamakan adalah kebutuhan pokok seperti beras, gula, sayur, atau bumbu. “Langsung saja, Kawan!” Si lelaki menggamit tangan Upa dan meletakkannya di atas surat persetujuan. “Ayo, jangan ragu. Tanda tangani! Sebentar lagi fajar. Kau harus pulang. Hari baru yang menyenangkan akan tiba. Secepatnya akan kukirimkan buku cerita dan alat tulis agar anak-anak desa semakin cerdas.” Tanpa sadar Upa menggoreskan tanda tangan dan membubuhkan namanya. Tangannya gemetar. Transaksi selesai! Menjelang pagi, Upa kembali ke Desa Kaba. Langkahnya gontai. Benaknya berpikir ulang. Apakah tindakannya benar? Beberapa belas meter sebelum masuk desa, Sika tergopoh-gopoh menyongsong Upa. “Pemuda Upa! Dari mana saja? Mengapa gerbang air kau tutup rapat semalaman?” Astaga! Kemarin sore ia menutup gerbang air supaya air kotor tidak mengalir ke desa. Hampir saja terjadi banjir karena aliran Sungai dari hulu tertahan sampah yang bertumpuk di gerbang air. Baru kali ini Upa lalai. Dibantu beberapa warga, Upa segera membersihkan sampah sehingga gerbang air bisa dibuka. Untunglah tidak terjadi banjir. Masalah sebenarnya baru muncul beberapa hari kemudian. Aliran air bercampur limbah pabrik kertas. Sungai Kirihono menjadi keruh dan bau. “Air apa ini, Upa? Mengapa begitu kotor?” Warga bertanya-tanya kepada Upa. Upa melongo. Tidak bisa berpikir sebab dan akibatnya. Kenapa dak seperti yang dibayangkan malam itu? Lantas ikan-ikan yang riang berenang itu apa? Air sebening cermin itu apa? Apakah ia salah dengar dan lihat? Ataukah ia dipengaruhi ilusi dari makhluk gaib penunggu hutan? Tenggorokan Upa tercekat. Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari warga desa. Ada pula yang langsung mencerca Upa sebagai penjaga bodoh. Beberapa pemuda berusaha menyusuri sungai untuk mencari asal polusi air. Seperti Upa kemarin, mereka ternganga melihat sebuah pabrik kertas mengalirkan air keruh ke sungai. Apa daya, mereka tak kuasa bertindak jauh ketika mengetahui bahwa perwakilan desa –Upa dan Toho—sudah menyetujui keberadaan pabrik. Mereka hanya bisa pasrah menerima begitu saja situasi baru: air keruh, bau menusuk, dan suara dengungan mesin. Semua disikapi dengan lapang dada oleh penduduk desa. Lambat-laun mereka terbiasa dengan ketidaknyamanan tersebut.   Di Desa Kaba sudah berdiri sepuluh buah taman baca. Tampak beberapa anak tenggelam dalam bacaan. Sambil sesekali tersenyum dan menggaruk betis bersisik dengan jemari penuh ruam lebar memerah. Berkat berdirinya pabrik kertas di tengah hutan, terjadi peningkatan kegemaran membaca. Akibat aliran limbah ke sungai, terjadi wabah penyakit kulit karena pencemaran air mandi. Upa–penjaga gerbang air Desa Kaba—bersembunyi jauh, jauh, di dalam hutan Kirihono, sambil menanti istri yang tak kunjung tiba.   Jakarta, 12 Desember 2022

Baca Selengkapnya
Dalam Seba, Kutemui Cinta CERPEN

Dalam Seba, Kutemui Cinta

  Akhmad Idris Aku lebih suka riuh ngerik¹ jangkrik di sini daripada higar bingar lalu lalang 'besi-besi berjalan' di perkotaan. Bagi sebagian orang, kota adalah lambang kemajuan dan modernitas, sedangkan desa adalah simbol ketertinggalan dan tradisional. Bagiku justru sebaliknya. Aku tak merasa tertinggal dengan orang-orang kota. Aku bangga menjadi penduduk desa, sebab kemajuan masyarakat perkotaan juga bergantung pada olah produksi penduduk desa. Kebutuhan pokok seperti udara, beras, kayu, minyak, dan lain-lain bersumber dari alam di pedesaan. Mata air pegunungan, padi-padi di sawah, pohon-pohon jati terindah, dan tambang-tambang minyak bumi tidak dapat ditemui di wilayah perkotaan. Semua hal tersebut hanya dapat ditemui di daerah-daerah yang masih menjaga dan merawat hutan, gunung, sungai, dan lembah dengan baik. Istilah 'desa' dan 'kota' seharusnya tidak menimbulkan efek diskriminatif, tetapi justru menimbulkan hubungan timbal balik yang saling melengkapi. Hubungan seperti itu yang dapat menciptakan keseimbangan hidup, layaknya malam dan siang. Keberadaan malam bukan untuk menampung keberadaan siang atau sebaliknya, tetapi untuk saling melengkapi. Kehangatan yang tidak bisa diberikan pada malam hari, dapat dilakukan pada siang hari. Hawa dingin yang tidak bisa diberikan pada siang hari, dapat dilakukan pada malam hari. Keberadaan desa sebagai pelindung dan penjaga alam dapat memberikan kesejahteraan kota dalam menyediakan kebutuhan pokok. Keberadaan kota sebagai pemegang undang-undang pemerintah dapat menjamin keamanan desa yang telah menjaga alam dari tangan-tangan serakah manusia yang ingin mengeruk gunung, merusak hutan, dan mengancam kearifan lokal. Aku bahagia di sini, di desa yang membangun hubungan baik dengan pemerintah kota lewat tradisi Seba². Panggilan Ambu³ yang berulang-ulang menyadarkanku dari lamunan tentang desa dan kota. Ambu memanggilku agar segera berangkat pendopo karena Ayah telah menunggu menujuku di depan. Sebelum mengikuti Ayah, kurapikan lagi telengkung⁴ di kepalaku, kutung⁵, dan aros⁶ yang kukenakan. Seba yang kuikuti beberapa hari yang lalu adalah seba pertamaku sekaligus menjadi pengalaman yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Aku merasa bangga menjadi satu di antara rombongan penjaga amanat leluhur. Pengalaman yang memicu pertanyaan-pertanyaan yang bergantungan di langit-langit hati. Langit yang perlahan mulai menguning menjadi saksi derap langkahku menuju Ayah yang sedang duduk bersila menatap langit lengkap dengan secangkir teh dari daun karas tulang di dekatnya. Daun karas tulang dipercaya memiliki khasiat dalam memperkuat tulang. “Ayah, serius sekali menatap langit. Apakah ada wajah Ambu di sana?” tanyaku pada Ayah sebagai pembuka percakapanku di sana. “Wajah Ambu-mu selalu terselip di mana-mana. Tak hanya di langit Kanekes,” jawab Ayah dengan romantis. “Ayah, Pegunungan Kendeng terlihat lebih anggun dengan hiasan langit-langit kuning kemerahan di atasnya.” “Tentu saja, karena itu Gunung Teu Meunang Dilebur⁷ agar tidak hanya kita yang bisa menikmatinya. Anak cucu kita juga punya hak untuk menikmati keindahan ini.”  “Saya tidak rela jika Pegunungan Kendeng yang indah ini kelak atau kapanpun berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit. Saya takut jika tak hanya langit yang ia 'cakar'; tetapi juga hewan, tumbuhan, dan manusia di sekitarnya.”  “Sejak kapan anak Ayah menjadi peduli sedalam ini terhadap alam? Hehehe. Hal itu yang menjadi satu di antara manfaat tradisi Seba yang telah kita lakukan beberapa hari yang lalu. Seba juga merupakan wujud penyampaian pesan kepada Bapak Gede⁸ dan Ibu Gede⁹ untuk saling menjaga kelestarian alam dari 'rasa' tidak pernah puas di dalam diri manusia yang terus-menerus ingin 'menghabisi' alam.”  "Mengapa harus hasil bumi yang kita persembahkan dalam Seba, Ayah? Bukankah lebih mudah jika kita persembahkan dalam bentuk uang? Maaf Ayah, jika pertanyaanku berlebihan."  “Ketahuilah Anakku, hasil bumi itu masih murni. Langsung pemberian dari alam, sedangkan uang telah mengalami perpindahan tangan berkali-kali. Uang yang kita peroleh dari pembeli berasal dari si A, si A memperoleh uang dari si B, dan seterusnya. Banyak tangan yang telah menyentuhnya, bahkan bisa jadi uang tersebut hasil dari mencuri, menipu, menzalimi, dan lainnya. Berbeda dengan pisang tanduk, gula aren, dan padi yang telah kita panen beberapa hari yang lalu. Hasil-hasil bumi tersebut masih murni dan belum terkontaminasi, sehingga diharapkan memberikan dampak-dampak yang suci juga. Selain itu, persembahan hasil panen juga merupakan wujud penegasan bahwa kita sangat bergantung dengan kondisi alam di sekitar. Jika alam kita rusak, maka kita akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup. “Sungguh, Aku baru mengetahuinya. Ternyata tradisi Seba memiliki makna sedalam itu, Ayah.” Hal itu yang menuntunmu untuk berhati-hati dalam memaknai suatu tradisi. Seba merupakan salah satu dari Pikukuh Karuhun⁰ dan telah dilakukan secara turun-temurun oleh para leluhur-leluhur kita, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda. Bertanyalah, Anakku. Hal-hal yang baru tidak selalu baik dan hal-hal yang lama tidak selalu harus dibuang. Buyut Teu Meunang Dirobah¹¹.” "Terima kasih Ayah atas pengertiannya. Lalu, bagaimana jika hasil panen kita sedikit? Bukankah persediaan makanan kita akan berkurang dan menjadi cepat habis?" “Yang habis adalah yang kita makan, sedangkan yang kita beri akan abadi. Sebanyak apapun yang kita makan tetap akan menjadi kotoran, tetapi apa pun yang kita beri tetap akan dikenang dan diingat sampai kapan pun.” "Jika suatu saat nanti tidak ada yang mau menerima persembahan Seba, bagaimana Ayah?" "Bisi engke dina hiji waktu, seba euweuh nu narima, poma kudu tetep dilaksamakeun sanajan ngan dahan sapapan nu nyaksian.¹²" Hening terdiam setelah jawaban itu keluar dari lisan Ayah. Memang benar, telinga dan mata diciptakan berpasangan dan mulut hanya satu bagian agar manusia lebih cenderung melihat dan mendengar terlebih dahulu sebelum membuat pernyataan atau simpulan. Kaki dan tangan diciptakan berpasangan juga menandakan agar manusia lebih banyak bertindak daripada berbicara. Sepoi lembut angin semakin menambah suasana sunyi di antara Aku dan Ayah. Kulanjutkan pertanyaan yang masih belum tuntas. "Ayah, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa persembahan dalam tradisi Seba adalah sejenis Upeti untuk Pemerintah. Apakah itu benar?" "Heheheha. Sebentar, Ayah ingin tertawa." "Loh, kok malah tertawa?"  "Aneh saja, Upeti adalah tanda ketundukan rakyat karena kalah dalam peperangan atau perebutan kekuasaan. Kita dan Pemerintah tidak pernah melakukannya. Seba dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh dam kita juga merasa bahagia karena telah menjalankan rukun agama. Bukti kebahagian kita adalah keikhlasan berjalan tanpa alas kaki dalam menempuh jarak kira-kira 160 kilometer, jika dijumlahkan antara jarak berangkat dan kepulangan."  "Mengapa harus Lalampah¹³? bukankah saudara-saudara kita bagian luar menggunakan kendaraan, Ayah?"  Lalampah adalah wujud kedekatan kita dengan alam. Ketika telapak kaki bersentuhan secara langsung dengan tanah, memanjang batin antara manusia dengan alam akan terjalin. Lalampah adalah cara kita 'memeluk' dan mencintai alam. Kita sekarang sedang hidup di zaman yang telah kehilangan kesakralan kata 'cinta'. Cinta menjadi uangkapan yang 'diobral' di mana-mana, padahal cinta semakin diobral semakin kehilangan makna. Rasa cinta terhadap alam tidak cukup hanya ditunjukkan dengan spanduk, poster, pidato-pidato persuasif, dan lain-lain. Bukti cinta yang paling nyata adalah dengan tindakan dan hal itu kita contohkan dengan Lalampah. Selain itu, Lalampah telah menjadi adat-istiadat kita sejak dulu bisa digunakan, sedangkan penggunaan minyak adalah bentuk eksploitasi tanah dan hutan. Kita adalah pelindung kemurnian Mandala, sehingga kita memilih Lalampah daripada menaiki kendaraan." “Ayah, Aku ingin menjaga tradisi kita,” kataku dengan sedikit berkaca-kaca yang dibalas dengan senyuman oleh Ayah sambil mengusap lembut kepalaku. Waktu yang tak terasa telah menjadi gelap sebagai pengingat kepada manusia agar segera terlelap. Fajar mengintip dengan malu-malu di balik pegunungan. Sepagi ini Aku sudah berada di sungai. Sebuah tangan mencolekku dari belakang yang membuat kaget setengah mati dan ternyata itu adalah Ambu.  "Tumben, kamu pagi-pagi sudah berada di sungai. Kamu mencuci apa?" tanya Ambu saya yang telah melihat tumbuhan honje di dekatku.  "Pakaian yang kukenakan pada Seba beberapa hari yang lalu, Ambu. Aku ingin segera membersihkannya dan akan memakainya lagi di Seba tahun depan," jawabku.  "Bukankah Kamu bisa menggunakan pakaian yang lain? Semua pakaian kita sama, tak ada yang berbeda. Tanda kita tidak ingin membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain," tanya Ambu penasaran.  "Betul Ambu, tapi Aku ingin pakaian yang kupakai dalam acara Seba pertamaku akan menjadi pakaianku juga untuk seba-seba selanjutnya. Setelah penjelasan Ayah kemarin sore, Seba menjadi sangat istimewa di pikiranku. Aku tak ingin mengganti busana, meskipun sebenarnya semua busana di sini sama," jawabku dengan mantap. Kulihat Ambu memandangku tanpa berkedip, meneteskan air mata, tersenyum, lalu berlalu.   1. Suara jangkrik.2. Tradisi Masyarakat Baduy, Kebupaten Lebak.3. Panggilan untuk ibu.4. Ikat kepala berwarna putih.5. Baju tanpa kerah.6. Sarung.7.Gunung yang tidak boleh dihancurkan.8. Gubernur Banten.9. Bupati Lebak.10. Amanat leluhur.11. Aturan adat.12. Jika suatu saat Seba tidak ada yang mau menerima, tetaplah harus dilaksanakan walaupun hanya sebatang kayu yang menjadi saksi.13. Berjalan kaki tanpa alas kaki dalam tradisi Seba. *** Surabaya, 9 Mei 2022 Cerita ini terinspirasi dari Tradisi Seba masyarakat Baduy Dalam, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang benar-benar mengajarkan saya pentingnya saling memahami, saling melindungi, dan saling melengkapi. Sekali lagi, terima kasih.   Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.

Baca Selengkapnya
Kenikmatan Sementara untuk Penderitaan yang Panjang CERPEN

Kenikmatan Sementara untuk Penderitaan yang Panjang

Dahulu sungai di desa ini banyak menghasilkan ikan bagi warga, juga sungainya belum tercemar. Para nelayan menggunakan cara aman untuk menangkap ikan. Seiring berjalannya waktu, kondisi sungai yang dulu dijaga kini berubah. Suwitno selaku kepala desa melarang warga menggunakan racun. Sebagian besar masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, tentu sungai adalah tempat mereka bergantung. Perdi salah satu di antara banyak nelayan, merasa akhir-akhir ini hasil tangkapan tidak cukup, apalagi sebagian besar penghasilannya untuk menghidupi keluarga adalah dengan melaut. Beberapa nelayan saling menyinggung tentang ada salah satu warga sudah berani menabur racun secara diam-diam. Perdi juga mendengar, tapi dia tidak ingin menyimpulkan pembicaraan yang belum ada buktinya. Meski hatinya curiga kepada Ramlan, lelaki itu dahulu juga nelayan, beberapa tahun kemudian berhenti mencari ikan, lalu bekerja sebagai tukang. Tapi belakangan ini, Ramlan kembali mencari ikan, meski tidak masalah siapa saja untuk mencari ikan, karena memang tidak dilarang. Toh di laut ikan bukan milik siapa-siapa. Tapi masalah yang membuat para nelayan gusar, akhir-akhir ini setelah turunnya Ramlan, lelaki itu selalu menghasilkan ikan dalam jumlah begitu banyak. Sedangkan nelayan lain yang sama-sama mencari ikan tidak banyak, dengan hasil tangkapan hampir sama, dalam jumlah kecil. Sedangkan Ramlan, setiap hari membawa hasil tangkapan kadang sampai dua karung. Sebagian warga sepertinya tidak curiga, entah mereka tahu atau tidak. Karena nelayan lain tidak cukup banyak menghasilkan ikan, mereka berbondong membeli ikan di rumah Ramlan. Kecurigaan warga kian bertambah, ketika nelayan lain memilih untuk tidak melaut lagi. Perdi tetap bersikukuh turun, meski hasilnya tetap seperti biasa. Walau tidak untuk dijual, setidaknya untuk dimakan lumayan mengurangi pengeluaran. Ramlan semakin hari semakin berjaya, dibanjiri pengunjung hingga ke luar daerah. Beberapa warga yang tahu tidak membeli, karena curiga memang benar memakai racun. Suwitno mendengar desas-desus itu. Santika istrinya menyampaikan kabar itu suatu pagi, bahwa ia mendengar dari beberapa tetangga tentang Ramlan yang menabur racun. “Kita cari bukti dulu, jika tidak ada bukti nanti jadi fitnah,” ujar Suwitno kepada istrinya yang begitu yakin bahwa Ramlan pelakunya. “Harus bertindak cepat Mas, jika memang semua itu benar, kasihan warga dan nelayan lain, sungai kita tercemar,” ucapnya dengan penuh keyakinan. “Iya, Aku akan usahakan untuk mencari bukti,” balasnya lalu berdiri meninggalkan istrinya yang masih ingin bicara. “Mau ke mana Mas?” “Mau melihat-lihat kegiatan warga, mana tahu menemukan sesuatu untuk mendapatkan bukti apa yang diucapkan warga,” jawabnya meninggalkan kursi, ia berpamitan pada istrinya untuk melihat-lihat keadaan di desa. Santika hanya mengangguk saja menatap cemas punggung suaminya. Berharap masalah tentang nelayan yang meracuni sungai cepat selesai dan tidak membuat warga resah, ia juga sedih melihat suaminya yang gusar sejak beberapa hari yang lalu karena belum menemukan bukti siapa pelaku dari masalah ini. Suwitno berjalan mengitari kampung, demi melihat kegiatan warganya. Beberapa orang yang lewat menyapa, lelaki itu membalas sapaan dari mereka. Suwitno menghentikan langkah ketika menangkap pandangan yang tidak asing. Segerombolan warga berbondong ke jerambah di ujung sungai, tempat hilir mudik warga untuk melakukan aktivitas di air. Seperti mengangkat hasil tangkapan ikan, juga bepergian menggunakan perahu. Warga setengah berlari, terutama ibu-ibu untuk menyerbu Ramlan yang baru saja naik membawa hasil tangkapan begitu banyak. Suwitno mendekat dan menyapa. “Dapat banyak lagi, Lan?” sapa Suwitno basa-basi, membuat Ramlan terkejut, lelaki itu menyahut antusias demi menutupi rasa gugupnya. “Iya Pak, Alhamdulillah, rezeki hari ini,” ucapnya bersemangat sambil tersenyum lebar. “Pakai jaring itu Lan menangkap ikannya?” ucap Suwitno menunjuk ke arah jaring tua yang sepertinya tidak begitu lagi bagus. Tapi masih bisa digunakan. “Betul pak, mau beli pak Witno?” ucap Ramlan menawarkan. “Tidak, tidak, saya cuman mau melihat perkembangan sungai dan kegiatan warga,” balas Suwitno melepas pandang ke luas sungai. Sedangkan Ramlan serba salah sambil melayani pembeli yang sibuk memilih ikan. Sebagian ada minta dibungkuskan, juga minta kembalian. Karena tidak fokus dan gugup, Ramlan keliru saat memberikan kembalian ke salah itu ibu-ibu. Dari jumlah uang lima puluh, karena ikan seharga dua puluh, maka uang kembaliannya tiga puluh. Ramlan malah mengembalikan uangnya sejumlah enam puluh, sontak saja perempuan itu protes. “Untung saya jujur, jika tidak bisa bangkrut, ini tiga puluhnya, saya cuman ambil tiga puluh, ikannya kan dua puluh. Uang saya lima puluh, pas semua,” tegas perempuan itu sambil mengembalikan uang tiga puluh ke Ramlan yang merasa bingung, lalu ia tersadar. Ramlan jadi kikuk dan meminta maaf karena keliru. Semua itu disaksikan oleh Suwitno. “Haha, sampai tidak fokus kamu Lan, karena kebanjiran pelanggan,” ucap Suwitno dengan tertawa kecil, lalu berlalu. "Hehe, iya Pak," balas Ramlan serba salah, setelah kepergian Suwitno lelaki itu menatap tajam dengan was-was. Warga yang bergantung dari hasil menangkap ikan mengeluh, karena tidak mendapat pemasukan. Sungai tidak lagi menghasilkan. Tapi tidak bagi Ramlan, lelaki itu setiap hari mendapat Ikan dalam jumlah banyak. Tapi pada suatu pagi, warga diributkan insiden anaknya Saniah yang muntah darah, bukan hanya itu saja. Beberapa warga lain juga mengalami hal serupa. Suwitno sigap membantu untuk membawa para korban ke rumah sakit kota. Setelah dikumpulkan di klinik desa, lalu mendapat surat rujukan dan para korban dibawa bersama ke kota untuk dirawat di rumah sakit besar. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa para pasien yang muntah darah itu keracunan. Tentu saja hal itu membuat Suwitno dan beberapa warga yang ikut mendampingi semakin kuat mencurigai Ramlan. Bahkan ada yang jelas-jelas langsung marah dan menyalahkan lelaki itu telah menipu, tapi sekali lagi Suwitno tetap tenang dan mencoba menenangkan warganya yang marah. Di halaman pak Ramlan, warga sudah ribut sambil memanggil lelaki itu penipu. Ramlan dan istrinya tidak berani keluar, mereka malah kabur melalui pintu belakang. Tapi istrinya terhenti menatap rumah yang dikelilingi warga. "Ayo pergi sebelum terlambat," desak Ramlan. "Mas, racun-racun itu tertinggal," ucap Milah putus asa. "Sudahlah, aku tak tahu harus bagaimana, terpenting selamatkan diri," balasnya lalu menarik tangan Milah, tapi perempuan itu ingin pasrah. "Aku ingin mengaku saja, kenapa pergi, seperti pembunuh dan pencuri, kita hanya meracuni sungai," ucapnya dengan putus asa. "Bodoh kamu Milah, kita memang membunuh mereka, kita meracuni sungai dan membuat warga keracunan, apa kau mau dipenjara?" "Kita memang salah Mas, kenapa lari, seharusnya hadapi, ini kesalahan kita," hardik Milah dengan air mata berlinang, kemudian pergi meninggalkan Ramlan yang menatap seakan tidak percaya atas tindakan istrinya itu. Perdi juga hadir di sana melihat keributan. Suwitno datang tergopoh-gopoh mencoba menenangkan warganya, setelah dapat ditenangkan, lelaki itu mewakili warga mencoba mengetuk pintu dengan lembut, agar Ramlan dan istrinya ke luar rumah untuk memberi pernyataan. Lima kali ketukan tetap diabaikan. karena merasa kesal. Suwitno mendobraknya. Tapi yang terlihat bukan Ramlan dan istrinya, tapi racun-racun yang mereka gunakan untuk menangkap ikan. Tentu hal itu membuat warga terkejut juga Suwitno. Dugaan mereka benar, bahwa selama ini Ramlan menggunakan racun dan mencemari sungai. Di tengah kemarahan warga, Milah muncul dan membuat semua sontak menoleh. Dengan berani Milah mengaku bahwa semua memang kesalahan ia dan suaminya. “Aku mengaku salah, sungai dan ikan-ikan yang kami jual memang beracun, bahkan yang keracunan itu mereka sebelumnya membeli ikan dengan kami, sekali lagi tolong maafkan aku dan suamiku,” ucap Milah mengaku dengan terisak. Perempuan itu juga dengan penuh tanggung jawab, ia rela menerima hukuman karena melanggar larangan dan menyebabkan warga menderita. Dari belakang Milah, muncul Ramlan yang tersengal, ia pun menunduk memohon ampun pada warga karena kesalahan. Milah menangis tersedu setelah menyatakan kesalahan. Suwitno pun sedikit kasihan melihat keduanya, tapi walau bagai mana pun, aturan tetap aturan. Bagi siapa saja yang melanggar tentu akan dihukum tanpa pandang bulu. Milah dan suaminya di penjara. Tapi diberi keringanan karena mengaku dan bertanggung jawab atas kerugian. Warga lega karena permasalahan itu selesai. Warga yang keracunan akhirnya pulih. Karena sungai tercemar dalam waktu lama, aktivitas mencari ikan dihentikan selama lima bulan. Demi mengembalikan sungai yang telah tercemar. Untuk sementara, warga bisa membeli ikan dari kota yang dipasok ke desa untuk kebutuhan selama masa larangan penangkapan ikan. Setelah lima bulan, sungai kembali digunakan dan nelayan yang sempat berhenti, kini kembali menangkap ikan dengan alami. Tidak menggunakan racun, sentrum dan bahan peledak. Suwitno meminta beberapa bagian militer untuk menjaga sungai, berjaga-jaga jika ada warga menabur racun akan langsung ditindak. Sungai terlihat seperti dahulu, nelayan hilir mudik, begitu juga pelayaran. Sungai dipenuhi tawa nelayan yang bersiap mencari ikan. Suwitno menatap senang, saat sungai kembali menemukan kedamaiannya. Perdi pun kini lega karena akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai nelayan.

Baca Selengkapnya
Footer