×

Langganan Artikel Bukit Buku

Upa

Upa

Christya Dewi Eka

 

Terus, terus ke dalam hutan Kirihono. Dada Upa berdesir. Bulu Tkuduknya meremang. Ia berdoa semoga tidak bertemu lelembut atau hewan buas. Menyadari dirinya sedang dikejar, sosok asing itu tertawa.

Tengu? Upa memicingkan mata. Seperti manusia tapi bukan manusia. Larinya tidak terlalu kencang. Dada Upa berdesir. Meski penasaran, ia berharap tidak menemui sosok berwajah merah dan berhidung panjang. Lebih baik bertemu perampok daripada tengu.

“Ayo, Upa!”

Bukan tengu rupanya. Suara itu tidak asing di telinga Upa.

“Kau rupanya!” bentak Upa.

“Sabar! Ikuti aku!”

Bersama Toho, Upa menghilang di kegelapan. Malam semakin larut. Upa bermaksud membongkar rahasia Toho yang diduga mencemari sungai.

Upa terbelalak. Di tengah hutan ada pabrik baru. Selama ini, menurut sangkanya, hutan Kirihono adalah hutan sunyi yang dihuni makhluk halus. Bahkan, seluruh penduduk Desa Kaba pun meyakini itu. Tidak heran jika mereka ketakutan merambah isi hutan. Mereka juga menyadari bahwa lingkaran kehidupan manusia bergantung pada alam dan berusaha sekuat tenaga menjaga kebersihan sungai, hutan, desa, dan lingkungan sekitar.

Lantas, manusia kurang ajar dari mana yang berani membangun pabrik di tengah hutan? Bisa dipasti kan, bukan berasal dari Desa Kaba! Upa semakin penasaran ingin melihat wajah orang-orang di balik pabrik baru.

Bagai raksasa, pabrik itu menjulang tinggi besar di antara rerimbunan pohon. Diterangi Cahaya bulan, samar-samar Upa melihat aliran buangan pabrik menuju anak sungai Kirihono.

“Ooo, jadi ini penyebab keruhnya air sungai. Sepertinya, endapan pasir bercampur sisa-sisa semen dibuang begitu saja ke sungai,” pikir Upa mencoba membaca situasi yang membingungkan tersebut.

“Selamat datang, Kawan,” seorang lelaki asing menegur Upa ramah.

Upa terperanjat.

“Ayolah minum sambil berbincang-bincang. Tubuhmu penat, bukan? Seharian bekerja membersihkan sungai tanpa bayaran, apa tidak jemu?”

Upa bungkam. Geram. Si lelaki asing terkekeh seraya meletakkan segelas minuman dingin dalam genggaman Upa.

“Segelas arak manis, bisa meredakan lelahmu, Kawan.” Upa mencium bau minuman memabukkan dari mulut si lelaki asing. Tanpa peduli jika jatuh mabuk, lantaran tak kuat menahan haus, Upa langsung meneguk minuman itu.

“Lebih sedap jika ditambah ubi rebus.”

Lagi-lagi, Upa tak kuasa menolak. Ia sangat haus dan lapar. Udara bertambah dingin menusuk tulang. Lalu, tanpa basa-basi, ia lahab ubi rebus itu.

Perutnya sudah tertolong. Hampir kenyang. Upa berangsur-angsur tenang. “Mengapa kalian membuang limbah ke sungai?” tanya Upa ketus pada Toho.

Toho terbahak-bahak, “Kau salah lihat, Upa! Tidak mungkin aku mengotori sungai.”

Lelaki asing tadi tersenyum lalu mengajak Upa ke dalam pabrik. “Lihat, Kawan! Ini pabrik kertas yang baru saja selesai dibangun. Namanya pabrik, tentu ada limbah. Tapi tak usah khawatir,” sergah si lelaki cepat, “pabrik ini menggunakan teknologi pengolahan limbah mutakhir. Limbah yang mengalir ke sungai sudah tersaring. Air sebening kaca. Aman. Ikan saja bisa berenang di dalamnya.”

“Apa buktinya?” tanya Upa.

Upa diajak memasuki bagian samping pabrik. “Ini kolam ikan dari limbah pabrik yang sudah disaring. Jernih, bukan? Kau tahu, harga mesin pembersih limbah lebih mahal dibanding seluruh aset Desa Kaba.”

“Lalu?”

“Nah, aku minta tolong kau tanda tangani surat persetujuan pendirian pabrik. Kuanggap, kau dan Toho adalah wakil desa yang tepat. Toho adalah putra pemimpin desa, kau adalah penjaga kebersihan sungai. Toho sudah setuju. Kuharap kau pun setuju bila limbah bening itu disalurkan ke Sungai Kirihono. Sebagai imbalannya, aku akan memberikan buku cerita dan alat tulis gratis kepada seluruh warga desa, dan ah,” bisik si lelaki asing dekat dengan telinga Upa, “kau belum beristri, kan? Aku bisa mencarikan gadis kota sebagai pasanganmu, hehehe.”

Wajah Upa memerah. Toho tersenyum simpul sambil melirik Upa penuh arti. Ikan-ikan melompat riang. Air di kolam mencerminkan bayangan Upa. Memang, Upa merindukan pembaruan. Ia ingin seluruh anak Desa Kaba lancar dan gemar membaca. Tidak hanya menghabiskan waktu dengan bermain dan bekerja, tapi memiliki sorot mata kemilau karena terisi ilmu pengetahuan, imajinasi, dan cita-cita.

Tangan Upa menggenggam pulpen dengan ragu. Tanda tangannya adalah penentu! Bila ia setuju, Desa Kaba akan memperoleh buku-buku dengan mudah dan gratis. Bagi penduduk desa selama ini, buku adalah barang mahal. Yang diutamakan adalah kebutuhan pokok seperti beras, gula, sayur, atau bumbu.

“Langsung saja, Kawan!”

Si lelaki menggamit tangan Upa dan meletakkannya di atas surat persetujuan. “Ayo, jangan ragu. Tanda tangani! Sebentar lagi fajar. Kau harus pulang. Hari baru yang menyenangkan akan tiba. Secepatnya akan kukirimkan buku cerita dan alat tulis agar anak-anak desa semakin cerdas.”

Tanpa sadar Upa menggoreskan tanda tangan dan membubuhkan namanya. Tangannya gemetar. Transaksi selesai!

Menjelang pagi, Upa kembali ke Desa Kaba. Langkahnya gontai. Benaknya berpikir ulang. Apakah tindakannya benar?

Beberapa belas meter sebelum masuk desa, Sika tergopoh-gopoh menyongsong Upa.

“Pemuda Upa! Dari mana saja? Mengapa gerbang air kau tutup rapat semalaman?”

Astaga! Kemarin sore ia menutup gerbang air supaya air kotor tidak mengalir ke desa. Hampir saja terjadi banjir karena aliran Sungai dari hulu tertahan sampah yang bertumpuk di gerbang air.

Baru kali ini Upa lalai. Dibantu beberapa warga, Upa segera membersihkan sampah sehingga gerbang air bisa dibuka. Untunglah tidak terjadi banjir.

Masalah sebenarnya baru muncul beberapa hari kemudian. Aliran air bercampur limbah pabrik kertas. Sungai Kirihono menjadi keruh dan bau.

“Air apa ini, Upa? Mengapa begitu kotor?”

Warga bertanya-tanya kepada Upa. Upa melongo. Tidak bisa berpikir sebab dan akibatnya. Kenapa dak seperti yang dibayangkan malam itu? Lantas ikan-ikan yang riang berenang itu apa? Air sebening cermin itu apa? Apakah ia salah dengar dan lihat? Ataukah ia dipengaruhi ilusi dari makhluk gaib penunggu hutan?

Tenggorokan Upa tercekat. Ia tak bisa menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dari warga desa. Ada pula yang langsung mencerca Upa sebagai penjaga bodoh.

Beberapa pemuda berusaha menyusuri sungai untuk mencari asal polusi air. Seperti

Upa kemarin, mereka ternganga melihat sebuah pabrik kertas mengalirkan air keruh ke sungai. Apa daya, mereka tak kuasa bertindak jauh ketika mengetahui bahwa perwakilan desa –Upa dan Toho—sudah menyetujui keberadaan pabrik.

Mereka hanya bisa pasrah menerima begitu saja situasi baru: air keruh, bau menusuk, dan suara dengungan mesin. Semua disikapi dengan lapang dada oleh penduduk desa. Lambat-laun mereka terbiasa dengan ketidaknyamanan tersebut.

 

Di Desa Kaba sudah berdiri sepuluh buah taman baca. Tampak beberapa anak tenggelam dalam bacaan. Sambil sesekali tersenyum dan menggaruk betis bersisik dengan jemari penuh ruam lebar memerah. Berkat berdirinya pabrik kertas di tengah hutan, terjadi peningkatan kegemaran membaca. Akibat aliran limbah ke sungai, terjadi wabah penyakit kulit karena pencemaran air mandi. Upa–penjaga gerbang air Desa Kaba—bersembunyi jauh, jauh, di dalam hutan Kirihono, sambil menanti istri yang tak kunjung tiba.

 

Jakarta, 12 Desember 2022

Footer