×

Langganan Artikel Bukit Buku

Kenikmatan Sementara untuk Penderitaan yang Panjang

Kenikmatan Sementara untuk Penderitaan yang Panjang

Dahulu sungai di desa ini banyak menghasilkan ikan bagi warga, juga sungainya belum tercemar. Para nelayan menggunakan cara aman untuk menangkap ikan. Seiring berjalannya waktu, kondisi sungai yang dulu dijaga kini berubah. Suwitno selaku kepala desa melarang warga menggunakan racun.

Sebagian besar masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, tentu sungai adalah tempat mereka bergantung. Perdi salah satu di antara banyak nelayan, merasa akhir-akhir ini hasil tangkapan tidak cukup, apalagi sebagian besar penghasilannya untuk menghidupi keluarga adalah dengan melaut. Beberapa nelayan saling menyinggung tentang ada salah satu warga sudah berani menabur racun secara diam-diam. Perdi juga mendengar, tapi dia tidak ingin menyimpulkan pembicaraan yang belum ada buktinya.

Meski hatinya curiga kepada Ramlan, lelaki itu dahulu juga nelayan, beberapa tahun kemudian berhenti mencari ikan, lalu bekerja sebagai tukang. Tapi belakangan ini, Ramlan kembali mencari ikan, meski tidak masalah siapa saja untuk mencari ikan, karena memang tidak dilarang. Toh di laut ikan bukan milik siapa-siapa. Tapi masalah yang membuat para nelayan gusar, akhir-akhir ini setelah turunnya Ramlan, lelaki itu selalu menghasilkan ikan dalam jumlah begitu banyak. Sedangkan nelayan lain yang sama-sama mencari ikan tidak banyak, dengan hasil tangkapan hampir sama, dalam jumlah kecil. Sedangkan Ramlan, setiap hari membawa hasil tangkapan kadang sampai dua karung. Sebagian warga sepertinya tidak curiga, entah mereka tahu atau tidak. Karena nelayan lain tidak cukup banyak menghasilkan ikan, mereka berbondong membeli ikan di rumah Ramlan.

Kecurigaan warga kian bertambah, ketika nelayan lain memilih untuk tidak melaut lagi. Perdi tetap bersikukuh turun, meski hasilnya tetap seperti biasa. Walau tidak untuk dijual, setidaknya untuk dimakan lumayan mengurangi pengeluaran. Ramlan semakin hari semakin berjaya, dibanjiri pengunjung hingga ke luar daerah. Beberapa warga yang tahu tidak membeli, karena curiga memang benar memakai racun. Suwitno mendengar desas-desus itu. Santika istrinya menyampaikan kabar itu suatu pagi, bahwa ia mendengar dari beberapa tetangga tentang Ramlan yang menabur racun.

“Kita cari bukti dulu, jika tidak ada bukti nanti jadi fitnah,” ujar Suwitno kepada istrinya yang begitu yakin bahwa Ramlan pelakunya.

“Harus bertindak cepat Mas, jika memang semua itu benar, kasihan warga dan nelayan lain, sungai kita tercemar,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

“Iya, Aku akan usahakan untuk mencari bukti,” balasnya lalu berdiri meninggalkan istrinya yang masih ingin bicara.

“Mau ke mana Mas?”

“Mau melihat-lihat kegiatan warga, mana tahu menemukan sesuatu untuk mendapatkan bukti apa yang diucapkan warga,” jawabnya meninggalkan kursi, ia berpamitan pada istrinya untuk melihat-lihat keadaan di desa. Santika hanya mengangguk saja menatap cemas punggung suaminya. Berharap masalah tentang nelayan yang meracuni sungai cepat selesai dan tidak membuat warga resah, ia juga sedih melihat suaminya yang gusar sejak beberapa hari yang lalu karena belum menemukan bukti siapa pelaku dari masalah ini.

Suwitno berjalan mengitari kampung, demi melihat kegiatan warganya. Beberapa orang yang lewat menyapa, lelaki itu membalas sapaan dari mereka. Suwitno menghentikan langkah ketika menangkap pandangan yang tidak asing. Segerombolan warga berbondong ke jerambah di ujung sungai, tempat hilir mudik warga untuk melakukan aktivitas di air. Seperti mengangkat hasil tangkapan ikan, juga bepergian menggunakan perahu. Warga setengah berlari, terutama ibu-ibu untuk menyerbu Ramlan yang baru saja naik membawa hasil tangkapan begitu banyak. Suwitno mendekat dan menyapa.

“Dapat banyak lagi, Lan?” sapa Suwitno basa-basi, membuat Ramlan terkejut, lelaki itu menyahut antusias demi menutupi rasa gugupnya.

“Iya Pak, Alhamdulillah, rezeki hari ini,” ucapnya bersemangat sambil tersenyum lebar.

“Pakai jaring itu Lan menangkap ikannya?” ucap Suwitno menunjuk ke arah jaring tua yang sepertinya tidak begitu lagi bagus. Tapi masih bisa digunakan.

“Betul pak, mau beli pak Witno?” ucap Ramlan menawarkan.

“Tidak, tidak, saya cuman mau melihat perkembangan sungai dan kegiatan warga,” balas Suwitno melepas pandang ke luas sungai.

Sedangkan Ramlan serba salah sambil melayani pembeli yang sibuk memilih ikan. Sebagian ada minta dibungkuskan, juga minta kembalian. Karena tidak fokus dan gugup, Ramlan keliru saat memberikan kembalian ke salah itu ibu-ibu. Dari jumlah uang lima puluh, karena ikan seharga dua puluh, maka uang kembaliannya tiga puluh. Ramlan malah mengembalikan uangnya sejumlah enam puluh, sontak saja perempuan itu protes.

“Untung saya jujur, jika tidak bisa bangkrut, ini tiga puluhnya, saya cuman ambil tiga puluh, ikannya kan dua puluh. Uang saya lima puluh, pas semua,” tegas perempuan itu sambil mengembalikan uang tiga puluh ke Ramlan yang merasa bingung, lalu ia tersadar. Ramlan jadi kikuk dan meminta maaf karena keliru. Semua itu disaksikan oleh Suwitno.

“Haha, sampai tidak fokus kamu Lan, karena kebanjiran pelanggan,” ucap Suwitno dengan tertawa kecil, lalu berlalu.

"Hehe, iya Pak," balas Ramlan serba salah, setelah kepergian Suwitno lelaki itu menatap tajam dengan was-was.

Warga yang bergantung dari hasil menangkap ikan mengeluh, karena tidak mendapat pemasukan. Sungai tidak lagi menghasilkan. Tapi tidak bagi Ramlan, lelaki itu setiap hari mendapat Ikan dalam jumlah banyak. Tapi pada suatu pagi, warga diributkan insiden anaknya Saniah yang muntah darah, bukan hanya itu saja. Beberapa warga lain juga mengalami hal serupa. Suwitno sigap membantu untuk membawa para korban ke rumah sakit kota. Setelah dikumpulkan di klinik desa, lalu mendapat surat rujukan dan para korban dibawa bersama ke kota untuk dirawat di rumah sakit besar. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa para pasien yang muntah darah itu keracunan. Tentu saja hal itu membuat Suwitno dan beberapa warga yang ikut mendampingi semakin kuat mencurigai Ramlan. Bahkan ada yang jelas-jelas langsung marah dan menyalahkan lelaki itu telah menipu, tapi sekali lagi Suwitno tetap tenang dan mencoba menenangkan warganya yang marah.

Di halaman pak Ramlan, warga sudah ribut sambil memanggil lelaki itu penipu. Ramlan dan istrinya tidak berani keluar, mereka malah kabur melalui pintu belakang. Tapi istrinya terhenti menatap rumah yang dikelilingi warga.

"Ayo pergi sebelum terlambat," desak Ramlan.

"Mas, racun-racun itu tertinggal," ucap Milah putus asa.

"Sudahlah, aku tak tahu harus bagaimana, terpenting selamatkan diri," balasnya lalu menarik tangan Milah, tapi perempuan itu ingin pasrah.

"Aku ingin mengaku saja, kenapa pergi, seperti pembunuh dan pencuri, kita hanya meracuni sungai," ucapnya dengan putus asa.

"Bodoh kamu Milah, kita memang membunuh mereka, kita meracuni sungai dan membuat warga keracunan, apa kau mau dipenjara?"

"Kita memang salah Mas, kenapa lari, seharusnya hadapi, ini kesalahan kita," hardik Milah dengan air mata berlinang, kemudian pergi meninggalkan Ramlan yang menatap seakan tidak percaya atas tindakan istrinya itu.

Perdi juga hadir di sana melihat keributan. Suwitno datang tergopoh-gopoh mencoba menenangkan warganya, setelah dapat ditenangkan, lelaki itu mewakili warga mencoba mengetuk pintu dengan lembut, agar Ramlan dan istrinya ke luar rumah untuk memberi pernyataan. Lima kali ketukan tetap diabaikan. karena merasa kesal. Suwitno mendobraknya. Tapi yang terlihat bukan Ramlan dan istrinya, tapi racun-racun yang mereka gunakan untuk menangkap ikan. Tentu hal itu membuat warga terkejut juga Suwitno. Dugaan mereka benar, bahwa selama ini Ramlan menggunakan racun dan mencemari sungai. Di tengah kemarahan warga, Milah muncul dan membuat semua sontak menoleh. Dengan berani Milah mengaku bahwa semua memang kesalahan ia dan suaminya.

“Aku mengaku salah, sungai dan ikan-ikan yang kami jual memang beracun, bahkan yang keracunan itu mereka sebelumnya membeli ikan dengan kami, sekali lagi tolong maafkan aku dan suamiku,” ucap Milah mengaku dengan terisak.

Perempuan itu juga dengan penuh tanggung jawab, ia rela menerima hukuman karena melanggar larangan dan menyebabkan warga menderita. Dari belakang Milah, muncul Ramlan yang tersengal, ia pun menunduk memohon ampun pada warga karena kesalahan. Milah menangis tersedu setelah menyatakan kesalahan. Suwitno pun sedikit kasihan melihat keduanya, tapi walau bagai mana pun, aturan tetap aturan. Bagi siapa saja yang melanggar tentu akan dihukum tanpa pandang bulu.

Milah dan suaminya di penjara. Tapi diberi keringanan karena mengaku dan bertanggung jawab atas kerugian. Warga lega karena permasalahan itu selesai. Warga yang keracunan akhirnya pulih. Karena sungai tercemar dalam waktu lama, aktivitas mencari ikan dihentikan selama lima bulan. Demi mengembalikan sungai yang telah tercemar. Untuk sementara, warga bisa membeli ikan dari kota yang dipasok ke desa untuk kebutuhan selama masa larangan penangkapan ikan. Setelah lima bulan, sungai kembali digunakan dan nelayan yang sempat berhenti, kini kembali menangkap ikan dengan alami. Tidak menggunakan racun, sentrum dan bahan peledak. Suwitno meminta beberapa bagian militer untuk menjaga sungai, berjaga-jaga jika ada warga menabur racun akan langsung ditindak. Sungai terlihat seperti dahulu, nelayan hilir mudik, begitu juga pelayaran. Sungai dipenuhi tawa nelayan yang bersiap mencari ikan. Suwitno menatap senang, saat sungai kembali menemukan kedamaiannya. Perdi pun kini lega karena akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai nelayan.

Footer