×

Langganan Artikel Bukit Buku

Dalam Seba, Kutemui Cinta

Dalam Seba, Kutemui Cinta

 

Akhmad Idris

Aku lebih suka riuh ngerik¹ jangkrik di sini daripada higar bingar lalu lalang 'besi-besi berjalan' di perkotaan. Bagi sebagian orang, kota adalah lambang kemajuan dan modernitas, sedangkan desa adalah simbol ketertinggalan dan tradisional. Bagiku justru sebaliknya. Aku tak merasa tertinggal dengan orang-orang kota. Aku bangga menjadi penduduk desa, sebab kemajuan masyarakat perkotaan juga bergantung pada olah produksi penduduk desa. Kebutuhan pokok seperti udara, beras, kayu, minyak, dan lain-lain bersumber dari alam di pedesaan. Mata air pegunungan, padi-padi di sawah, pohon-pohon jati terindah, dan tambang-tambang minyak bumi tidak dapat ditemui di wilayah perkotaan. Semua hal tersebut hanya dapat ditemui di daerah-daerah yang masih menjaga dan merawat hutan, gunung, sungai, dan lembah dengan baik. Istilah 'desa' dan 'kota' seharusnya tidak menimbulkan efek diskriminatif, tetapi justru menimbulkan hubungan timbal balik yang saling melengkapi. Hubungan seperti itu yang dapat menciptakan keseimbangan hidup, layaknya malam dan siang. Keberadaan malam bukan untuk menampung keberadaan siang atau sebaliknya, tetapi untuk saling melengkapi. Kehangatan yang tidak bisa diberikan pada malam hari, dapat dilakukan pada siang hari. Hawa dingin yang tidak bisa diberikan pada siang hari, dapat dilakukan pada malam hari.

Keberadaan desa sebagai pelindung dan penjaga alam dapat memberikan kesejahteraan kota dalam menyediakan kebutuhan pokok. Keberadaan kota sebagai pemegang undang-undang pemerintah dapat menjamin keamanan desa yang telah menjaga alam dari tangan-tangan serakah manusia yang ingin mengeruk gunung, merusak hutan, dan mengancam kearifan lokal. Aku bahagia di sini, di desa yang membangun hubungan baik dengan pemerintah kota lewat tradisi Seba². Panggilan Ambu³ yang berulang-ulang menyadarkanku dari lamunan tentang desa dan kota. Ambu memanggilku agar segera berangkat pendopo karena Ayah telah menunggu menujuku di depan. Sebelum mengikuti Ayah, kurapikan lagi telengkung⁴ di kepalaku, kutung⁵, dan aros⁶ yang kukenakan.

Seba yang kuikuti beberapa hari yang lalu adalah seba pertamaku sekaligus menjadi pengalaman yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Aku merasa bangga menjadi satu di antara rombongan penjaga amanat leluhur. Pengalaman yang memicu pertanyaan-pertanyaan yang bergantungan di langit-langit hati. Langit yang perlahan mulai menguning menjadi saksi derap langkahku menuju Ayah yang sedang duduk bersila menatap langit lengkap dengan secangkir teh dari daun karas tulang di dekatnya. Daun karas tulang dipercaya memiliki khasiat dalam memperkuat tulang.

“Ayah, serius sekali menatap langit. Apakah ada wajah Ambu di sana?” tanyaku pada Ayah sebagai pembuka percakapanku di sana.

“Wajah Ambu-mu selalu terselip di mana-mana. Tak hanya di langit Kanekes,” jawab Ayah dengan romantis.

“Ayah, Pegunungan Kendeng terlihat lebih anggun dengan hiasan langit-langit kuning kemerahan di atasnya.”

“Tentu saja, karena itu Gunung Teu Meunang Dilebur⁷ agar tidak hanya kita yang bisa menikmatinya. Anak cucu kita juga punya hak untuk menikmati keindahan ini.” 

“Saya tidak rela jika Pegunungan Kendeng yang indah ini kelak atau kapanpun berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit. Saya takut jika tak hanya langit yang ia 'cakar'; tetapi juga hewan, tumbuhan, dan manusia di sekitarnya.” 

“Sejak kapan anak Ayah menjadi peduli sedalam ini terhadap alam? Hehehe. Hal itu yang menjadi satu di antara manfaat tradisi Seba yang telah kita lakukan beberapa hari yang lalu. Seba juga merupakan wujud penyampaian pesan kepada Bapak Gede⁸ dan Ibu Gede⁹ untuk saling menjaga kelestarian alam dari 'rasa' tidak pernah puas di dalam diri manusia yang terus-menerus ingin 'menghabisi' alam.” 

"Mengapa harus hasil bumi yang kita persembahkan dalam Seba, Ayah? Bukankah lebih mudah jika kita persembahkan dalam bentuk uang? Maaf Ayah, jika pertanyaanku berlebihan." 

“Ketahuilah Anakku, hasil bumi itu masih murni. Langsung pemberian dari alam, sedangkan uang telah mengalami perpindahan tangan berkali-kali. Uang yang kita peroleh dari pembeli berasal dari si A, si A memperoleh uang dari si B, dan seterusnya. Banyak tangan yang telah menyentuhnya, bahkan bisa jadi uang tersebut hasil dari mencuri, menipu, menzalimi, dan lainnya. Berbeda dengan pisang tanduk, gula aren, dan padi yang telah kita panen beberapa hari yang lalu. Hasil-hasil bumi tersebut masih murni dan belum terkontaminasi, sehingga diharapkan memberikan dampak-dampak yang suci juga. Selain itu, persembahan hasil panen juga merupakan wujud penegasan bahwa kita sangat bergantung dengan kondisi alam di sekitar. Jika alam kita rusak, maka kita akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup.

“Sungguh, Aku baru mengetahuinya. Ternyata tradisi Seba memiliki makna sedalam itu, Ayah.”

Hal itu yang menuntunmu untuk berhati-hati dalam memaknai suatu tradisi. Seba merupakan salah satu dari Pikukuh Karuhun⁰ dan telah dilakukan secara turun-temurun oleh para leluhur-leluhur kita, bahkan sejak zaman penjajahan Belanda. Bertanyalah, Anakku. Hal-hal yang baru tidak selalu baik dan hal-hal yang lama tidak selalu harus dibuang. Buyut Teu Meunang Dirobah¹¹.”

"Terima kasih Ayah atas pengertiannya. Lalu, bagaimana jika hasil panen kita sedikit? Bukankah persediaan makanan kita akan berkurang dan menjadi cepat habis?"

“Yang habis adalah yang kita makan, sedangkan yang kita beri akan abadi. Sebanyak apapun yang kita makan tetap akan menjadi kotoran, tetapi apa pun yang kita beri tetap akan dikenang dan diingat sampai kapan pun.”

"Jika suatu saat nanti tidak ada yang mau menerima persembahan Seba, bagaimana Ayah?"

"Bisi engke dina hiji waktu, seba euweuh nu narima, poma kudu tetep dilaksamakeun sanajan ngan dahan sapapan nu nyaksian.¹²"

Hening terdiam setelah jawaban itu keluar dari lisan Ayah. Memang benar, telinga dan mata diciptakan berpasangan dan mulut hanya satu bagian agar manusia lebih cenderung melihat dan mendengar terlebih dahulu sebelum membuat pernyataan atau simpulan. Kaki dan tangan diciptakan berpasangan juga menandakan agar manusia lebih banyak bertindak daripada berbicara. Sepoi lembut angin semakin menambah suasana sunyi di antara Aku dan Ayah. Kulanjutkan pertanyaan yang masih belum tuntas. "Ayah, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa persembahan dalam tradisi Seba adalah sejenis Upeti untuk Pemerintah. Apakah itu benar?" "Heheheha. Sebentar, Ayah ingin tertawa."

"Loh, kok malah tertawa?" 

"Aneh saja, Upeti adalah tanda ketundukan rakyat karena kalah dalam peperangan atau perebutan kekuasaan. Kita dan Pemerintah tidak pernah melakukannya. Seba dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh dam kita juga merasa bahagia karena telah menjalankan rukun agama. Bukti kebahagian kita adalah keikhlasan berjalan tanpa alas kaki dalam menempuh jarak kira-kira 160 kilometer, jika dijumlahkan antara jarak berangkat dan kepulangan." 

"Mengapa harus Lalampah¹³? bukankah saudara-saudara kita bagian luar menggunakan kendaraan, Ayah?" 

Lalampah adalah wujud kedekatan kita dengan alam. Ketika telapak kaki bersentuhan secara langsung dengan tanah, memanjang batin antara manusia dengan alam akan terjalin. Lalampah adalah cara kita 'memeluk' dan mencintai alam. Kita sekarang sedang hidup di zaman yang telah kehilangan kesakralan kata 'cinta'. Cinta menjadi uangkapan yang 'diobral' di mana-mana, padahal cinta semakin diobral semakin kehilangan makna. Rasa cinta terhadap alam tidak cukup hanya ditunjukkan dengan spanduk, poster, pidato-pidato persuasif, dan lain-lain. Bukti cinta yang paling nyata adalah dengan tindakan dan hal itu kita contohkan dengan Lalampah. Selain itu, Lalampah telah menjadi adat-istiadat kita sejak dulu bisa digunakan, sedangkan penggunaan minyak adalah bentuk eksploitasi tanah dan hutan. Kita adalah pelindung kemurnian Mandala, sehingga kita memilih Lalampah daripada menaiki kendaraan."

“Ayah, Aku ingin menjaga tradisi kita,” kataku dengan sedikit berkaca-kaca yang dibalas dengan senyuman oleh Ayah sambil mengusap lembut kepalaku. Waktu yang tak terasa telah menjadi gelap sebagai pengingat kepada manusia agar segera terlelap.

Fajar mengintip dengan malu-malu di balik pegunungan. Sepagi ini Aku sudah berada di sungai. Sebuah tangan mencolekku dari belakang yang membuat kaget setengah mati dan ternyata itu adalah Ambu. 

"Tumben, kamu pagi-pagi sudah berada di sungai. Kamu mencuci apa?" tanya Ambu saya yang telah melihat tumbuhan honje di dekatku. 

"Pakaian yang kukenakan pada Seba beberapa hari yang lalu, Ambu. Aku ingin segera membersihkannya dan akan memakainya lagi di Seba tahun depan," jawabku. 

"Bukankah Kamu bisa menggunakan pakaian yang lain? Semua pakaian kita sama, tak ada yang berbeda. Tanda kita tidak ingin membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain," tanya Ambu penasaran. 

"Betul Ambu, tapi Aku ingin pakaian yang kupakai dalam acara Seba pertamaku akan menjadi pakaianku juga untuk seba-seba selanjutnya. Setelah penjelasan Ayah kemarin sore, Seba menjadi sangat istimewa di pikiranku. Aku tak ingin mengganti busana, meskipun sebenarnya semua busana di sini sama," jawabku dengan mantap. Kulihat Ambu memandangku tanpa berkedip, meneteskan air mata, tersenyum, lalu berlalu.

 

1. Suara jangkrik.
2. Tradisi Masyarakat Baduy, Kebupaten Lebak.
3. Panggilan untuk ibu.
4. Ikat kepala berwarna putih.
5. Baju tanpa kerah.
6. Sarung.
7.Gunung yang tidak boleh dihancurkan.
8. Gubernur Banten.
9. Bupati Lebak.
10. Amanat leluhur.
11. Aturan adat.
12. Jika suatu saat Seba tidak ada yang mau menerima, tetaplah harus dilaksanakan walaupun hanya sebatang kayu yang menjadi saksi.
13. Berjalan kaki tanpa alas kaki dalam tradisi Seba.

***

Surabaya, 9 Mei 2022

Cerita ini terinspirasi dari Tradisi Seba masyarakat Baduy Dalam, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak yang benar-benar mengajarkan saya pentingnya saling memahami, saling melindungi, dan saling melengkapi. Sekali lagi, terima kasih.

 

Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.
Footer