Di Bukit Bunyi, kami berangkat dari keyakinan bahwa setiap kata memiliki bobot frekuensinya sendiri. Sebuah diksi yang tajam memiliki getaran yang berbeda dengan diksi yang melankolis. Ketika seorang penyair menuliskan baris tentang kesunyian, ada frekuensi rendah yang berdenyut di sana. Ketika ia menulis tentang amarah, ada ritme yang tersendat dan meledak.
Kami tidak sekadar membubuhkan musik sebagai latar belakang atau penghias (musik ilustrasi). Sebaliknya, kami melakukan proses alih wahana yang integratif. Kami membedah anatomi puisi—mencari di mana letak detak jantungnya—lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa musik. Dalam proses ini, bait sastra bermetamorfosis; metafora berubah menjadi melodi, rima menjadi harmoni, dan jeda (tanda baca) menjadi rest atau kesunyian yang disengaja dalam komposisi.
LANGGANAN