×

Langganan Artikel Bukit Buku

Resensi Film Samjin Company English Class (2020): Yang Tersingkirkan yang Melawan Talitha Djulia Claresta

Resensi Film Samjin Company English Class (2020): Yang Tersingkirkan yang Melawan Talitha Djulia Claresta

Hubungan antara perempuan dan alam telah terjalin begitu lama dan erat, simbolisasi dan perumpaan yang sering mewujudkan alam dalam bentuk perempuan merupakan suatu tindakan manusia yang menganggap kedua entitas tersebut berbagi karakteristik yang sama. Sifat mengasihi, melindungi, dan memberikan sesuatu tanpa pamrih yang diidentikkan pada alam oleh manusia, direfleksikan dalam perilaku yang ditunjukkan oleh seorang ibu terhadap anaknya. Maka, tidak heran terciptanya istilah penggunaan kata Mother of Earth atau Ibu Bumi, serta beberapa perwujudan entitas supernatural sebagai seorang perempuan yang memiliki kaitan dengan alam dan kesuburan dalam bentuk dewi, seperti Dewi Sri yang merupakan kepercayaan dari masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali yang dianggap sebagai dewi pembawa kesuburan, kemakmuran, dan keberhasilan panen, terutama tanaman padi. Sedangkan dalam kepercayaan Yunani juga memercayai bahwa seorang Dewi bernama Demeter, merupakan bentuk dari simbolisasi dari dewi pertanian dan kesuburan. Ia dipercayai memiliki kuasa untuk mengendalikan panen, musim, kesuburan tanah, dan gandum.

Namun, di balik persamaan karakteristik yang dimiliki oleh perempuan dan alam. Mereka juga mengalami nasib yang sama, yakni merasakan penindasan dan tersisihkan oleh kelompok dominan. Suatu hal yang sulit untuk dimungkiri bahwa dominasi dan kekuasaan memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia, tidak hanya menimbulkan ketidakadilan bagi kelompok inferior. Hal ini juga merugikan lingkungan akibat dari pemberlakuan kebijakan yang hanya memberikan keuntungan bagi pihak tertentu. Salah satu contoh kasus yang merupakan bentuk dari penindasan kelompok dominan terhadap kelompok inferior dan lingkungan adalah bagaimana industri produksi massal yang mengabaikan hak para pekerjanya. Terutama pekerja perempuan serta dampak terhadap keberlangsungan ekosistem lingkungan dari kebijakan-kebijakan yang mereka ambil semata-mata untuk memperoleh keuntungan perusahaan sebanyak mungkin.

Selayaknya yang tercermin dalam film Samjin Company English Class, film ini menyorot fenomena dalam bisnis industri yang dikuasai oleh kelompok dominan. Mereka mengabaikan kesejahteraan, mengekang potensi serta kinerja yang dimiliki oleh pekerja perempuaan dalam memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kualitas dan berdikari. Selain itu, film yang disutradai oleh Lee Jong Pil ini juga mengangkat isu mengenai kerakusan industri-industri berskala massal dan mengabaikan keberlangsungan ekosistem yang mengakibatkan kerusakan pada alam.

Berlatarkan pada tahun 1995, film Samjin Company English Class menceritakan mimpi-mimpi pekerja yang berusaha untuk bertahan di tengah sengitnya persaingan kerja di awal era globalisasi Korea Selatan. Rintangan tersebut sangat dirasakan oleh pekerja perempuan, terlebih lagi jika mereka hanya mengenyam pendidikan sebatas sekolah menengah atas. Akibat dari peningkatan perekonomian Korea Selatan memunculkan kompetisi ketat antar karyawan untuk memperoleh jabatan serta pendapatan layak, seperti yang dialami oleh Lee Jayoung beserta karyawan perempuan lainnya. Merasa terkungkung dengan pekerjaan monoton yang ia lakukan sehari-sehari sebagai karyawan perempuan di Samjin Electronic Co. Jayoung merasa potensi, ambisi, serta masa muda yang dimilikinya sia-sia karena ia tidak bisa menunjukan kualitas diri secara penuh. Jayoung menyadari jika pekerjaan yang ia lakukan, seperti membersihkan kantor, membuat kopi, dan merapikan berkas bukan sesuatu yang ia inginkan. Jayoung memimpikan pekerjaan yang mampu menampung serta memaksimalkan potensinya.

Alasan tersebut menjadi motivasi terbesar bagi Jayoung untuk mengikuti kelas Bahasa Inggris Samjin agar memperoleh salah satu syarat untuk mendapatkan promosi jabatan, yakni memiliki minimal skor TOEIC sebesar 600. Bersama dengan kedua rekan kerja sekaligus teman terdekatnya, Jung Yoona dan Sim Boram. Mereka bertiga berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan persyaratan promosi jabatan tersebut. Persiapan yang pada awalnya berjalan dengan lancar harus terganggu dengan peristiwa yang disaksikan Jayoung mengenai kebohongan, korupsi, dan perusakan alam yang dilakukan oleh Samjin Electronic Co. Ketika ia mengetahui fakta bahwa perusahaan tersebut membuang limbah pabrik kimia secara ilegal yang mengakibatkan terancamnya kesehatan serta keselamatan lingkungan dan penduduk sekitar.

Berawal dari perintah yang ditugaskan kepada Jayoung dan rekannya untuk memindahkan barang-barang milik pewaris perusahaan yang berada di perusahaan cabang Okju, ketika ia hendak mengemasi barang-barang yang terdapat pada ruangan kantor. Ia melihat seekor ikan di dalam akuarium dan mengkhawatirkan kondisi hewan tersebut sehingga Jayoung berinisiatif untuk memindahkannya pada sungai terdekat. Namun setiba di dekat aliran sungai, ia melihat peristiwa yang mencengangkan, yakni ikan-ikan di sekitar sungai wilayah pabrik Samjin Electronic. Co cabang Okju mati secara misterius dalam jumlah yang banyak. Pada saat hujan lebat datang, Jayoung menyaksikan jika pihak perusahaan menyalurkan limbah pabrik fenol di sungai untuk menutup alibi mereka dengan anggapan bahwa limbah kimia tersebut akan terbawa bersama dengan aliran sungai. Diketahui jika fenol digunakan Samjin Electronic. Co, sebagai bahan baku pembuatan pembuatan papan sirkuit. Ketika rekan Jayoung melaporkan kondisi tersebut kepada atasan mereka, secara sigap mereka melakukan peninjauan lapangan guna mendapatkan sampel pencemaran limbah kimia, dan berjanji mengirimkan sampel air sungai yang tercemar pada lab di Amerika Serikat untuk diperiksa lebih lanjut, hingga beberapa hari kemudian perusahaan mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada bahaya yang mengancam dari kebocoran tersebut.

Berbanding jauh dengan apa yang Jayoung temukan, ketika ia kembali ke salah satu perkebunan apel di wilayah dekat perusahaan Samjin Electronic. Co, ia melihat jika banyak apel yang berjatuhan dan busuk, kemudian pemilik dari perkebunan apel mengalami iritasi dan ruam kulit. Jayoung seketika langsung menyadari bahwa limbah pabrik kimia fenol yang mencemari sungai tidak dalam skala yang ringan, bahkan dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan perekonomian bagi penduduk sekitar. Perusahaan masih bisa berusaha mengelak untuk meredam kecemasan masyarakat sekitar dan menutup fakta bahwa limbah tersebut dapat mengancam keselamatan. Sebagai suatu usaha untuk menutup kebohongan terhadap penduduk Okju, pihak Samjin Electronic. Co membuat laporan hasil lab palsu yang menunjukkan seakan-akan jumlah limbah yang dibuang tidak membahayakan. Pembuangan limbah pabrik kimia secara ilegal oleh pihak perusahaan merupakan bentuk dari korupsi guna mengurangi biaya pengolahan limbah pabrik, dan kepalsuan kepada penduduk sekitar perusahaan untuk menjamin keberlangsungan jalannya produksi perusahaan dan mengurangi biaya kompensasi yang seharusnya diterima oleh penduduk sebagai bentuk dari ganti rugi.

Melihat kelalaian yang menimbulkan kerugian dari perusahaan tempat ia bekerja, Jayoung tidak dapat hanya berdiam diri dan menutup mulut, walaupun ia telah berusaha untuk pura-pura tidak tahu dan tidak peduli. Di dalam dirinya masih terdapat perasaan bersalah dan bertanggung jawab untuk memberikan keadilan bagi alam dan penduduk sekitar. Mendapatkan bantuan dari Yoona dan Boram untuk menguak dalang di balik pencemaran lingkungan dan mengungkapkan manipulasi Samjin Electronic Co., mereka tidak menyadari bahwa keadilan yang diupayakan akan menyibak tabir dari sebuah konspirasi besar di balik rencana untuk menghancurkan bisnis Samjin Electronic Co. yang menambah rentetan rintangan bagi ketiga perempuan tersebut. 

Mengangkat isu yang santer ditemukan dalam ranah pekerjaan, terutama keterbatasan yang harus dihadapi dan dialami oleh karyawan perempuan, film Samjin Company English Class memperlihatkan perjuangan karakter Jayoung, Yoona, Boram beserta rekan-rekan perempuan lain yang menghadapi rintangan dalam mengejar impian, kemudian terjebak pada pekerjaan yang hanya sebatas membersihkan ruang kerja, membuat kopi, dan menjadi pesuruh atasan. Merefleksikan bagaimana ruang gerak perempuan dibatasi dengan adanya stereotip gender, menimbulkan pemikiran bahwa pekerjaan perempuan terbatas pada melayani dan bersih-bersih atau pekerjaan ranah domestik. Walaupun ditunjukkan sebagai karakter-karakter yang jenius pada bidang keahliannya, tetapi Jayoung, Yoona, dan Boram tidak memiliki kesempatan untuk mengakses secara penuh dan menunjukan kualitas mereka sebagai seorang individu, diakibatkan oleh gender, status sosial, dan taraf pendidikan yang mereka miliki. Samjin Company English Class juga menyoroti bagaimana perempuan rawan memperoleh ketidakadilan dan disudutkan oleh atasan pria mereka, seperti pada tokoh Yoona yang dituduh sebagai seorang perempuan materialistik yang terobsesi pada uang, padahal rumor tersebut dituduhkan merupakan akibat dari upaya yang ia lakukan untuk melaporkan kasus pelecehan yang dilakukan oleh salah satu atasan terhadap dirinya. Contoh lain dari ketidakadilan yang perempuan hadapi ditunjukkan dalam film ini adalah ketika seorang pekerja perempuan Samjin Electronic Co. pada divisi umum yang mengalami pemecatan, hal tersebut dikarenakan ia sedang mengandung, tindakan yang diambil oleh perusahaan berdasarkan anggapan bahwa perempuan yang hamil dan menjadi seorang ibu akan mengurangi dedikasi serta totalitas dalam performa bekerja karena pikiran serta tenaganya akan terbagi-bagi antara pekerjaan kantor dan mengurus anak di rumah.

Selain mengajak penonton untuk melihat penindasan yang dialami oleh perempuan akibat kebijakan pihak dominan, film ini juga memperlihatkan kelalaian manusia yang mengutamakan kepentingan materi dan keuntungan tanpa mempedulikan dampak yang dialami oleh ekosistem serta entitas lain yang bergantung pada keberlangsungan alam tersebut. Pada film Samjin Company English Class dijelaskan bahwa akibat dari pencemaran limbah kimia fenol oleh perusahaan akan memicu komplikasi pada sistem pernapasan, pencernaan, kulit, hingga menjadi pencetus kanker. Begitu jelas jika fenol berakibat fatal pada kesehatan yang akan menyebabkan kematian jika terpapar dalam kuantatis banyak dan jangka waktu yang lama. Di dalam satu adegan yang memperlihatkan Jayoung pada saat kembali ke wilayah sekitar pabrik Okju. Ia melihat bahwa ladang dan kebun yang mengandalkan air sungai sebagai sistem utama irigasi mengalami gagal panen. Di antaranya pada kebun apel yang Jayoung pernah kunjungi ditunjukkan bahwa pemilik perkebunan tersebut jatuh sakit dan apel yang ia tanam tidak bisa dipanen sehingga kekurangan biaya untuk membayar biaya perawatan rumah sakit. Bahkan, salah satu Ibu yang sedang hamil di wilayah tersebut mengalami gejala kehamilan prematur, karena selama kehamilan ia bergantung pada sungai untuk mendapatkan air demi keperluan sehari-hari. Pada kehidupan nyata sendiri, terdapat banyak kasus faktual mengenai pencemaran lingkungan akibat kelalaian perusahaan, di antaranya adalah pembuangan limbah pabrik kimia yang merupakan bahan beracun dan berbahaya secara ilegal. Hal tersebut mengakibatkan pencemaran udara dan air yang menjadi sumber utama masyarakat sekitar untuk menunjang keberlangsungan hidup. Kemudian, terdapat upaya melakukan pembalakan liar guna membuka lahan baru perusahaan, selain merusak tanaman dan pohon, secara langsung upaya tersebut akan merusak ekosistem dan habitat hewan-hewan di wilayah tersebut. Meskipun, telah ditetapkan secara hukum bahwa terdapat sanksi yang menunggu perusahaan-perusahaan tersebut jika masih berusaha untuk mengganggu keberlangsungan kelestarian alam. Nyatanya masih banyak pihak yang masih membangkang.

Penonton film Samjin Company English Class diperlihatkan kondisi perempuan dan alam sering kali berada pada posisi yang sama, kedua entitas berada pada posisi yang menyudutkan mereka akibat dari kebijakan pihak dominan yang hanya memikirkan kesejahteraan dan keuntungan sendiri. Akibat dari pencemaran lingkungan yang merusak alam berpotensi besar mengancam kesehatan dan kesejahteraan kelompok inferior di antaranya adalah perempuan. Diketahui bahwa salah satu ancaman yang diakibatkan dari pencemaran lingkungan adalah terbentuknya polusi yang memicu kemunculan penyakit endometriosis, penyakit tersebut disebabkan oleh radikal bebas pada polusi udara yang akan mengakibatkan pembentukan kista pada rahim perempuan. Bahkan pada beberapa kasus endometriosis yang menjangkit perempuan sedang mengandung, akan memengaruhi kondisi kesehatan janin, kemudian menimbulkan efek kecacatan pada bayi hingga keguguran.

Namun pada akhir cerita, seperti sebuah ungkapan jika kerja keras tidak akan mengkhianati hasil, usaha yang diupayakan oleh Jayoung beserta rekan-rekannya membuahkan hasil yang memuaskan, karena mereka berhasil mendapatkan skor TOEIC yang diharapkan, mengantarkan mereka berhasil mendapatkan promosi kenaikan jabatan pada bidang keahlian masing-masing. Mereka berhasil keluar dari anggapan bahwa perempuan susah untuk mengembangkan diri dan tidak memiliki kesempatan untuk berdikari, Jayoung, Yoona, dan Boram memperjuangkan dan mempertaruhkan semua kemampuan yang mereka miliki demi menunjukkan kualitas diri. Kemudian, kebenaran dan keadilan yang diupayakan oleh mereka bertiga beserta rekan-rekan yang lain mengungkapkan fakta pencemaran limbah pabrik kimia fenol di wilayah Okju, beberapa pihak Samjin Electronic Co. yang terlibat dalam pembuangan limbah pabrik kimia diberikan sanksi hukum dan perusahaan tersebut memutuskan melakukan upaya untuk memperbaiki regulasi pengolahan limbah pabrik kimia perusahaan serta bertanggung jawab secara penuh biaya ganti rugi penduduk di sekitar. Dengan perlahan-lahan penduduk di sekitar wilayah perusahaan telah kembali pulih dari keterpurukan, mereka mengalami kemajuan, baik secara ekonomi maupun kondisi kualitas kesehatan yang semakin membaik.

Memiliki alur cerita yang cukup ringan dan menyenangkan untuk diikuti, dengan setting yang disesuaikan untuk menekan aspek vibes dari tahun 90'an, Samjin Company English Class berhasil untuk menyoroti perkembangan karakter perempuan utama beserta rekan-rekannya, menunjukan bahwa kerja keras dan usaha yang mereka pertaruhkan berhasil untuk menempatkan mereka memperlihatkan potensi yang dimiliki. Pemilihan set serta properti yang disesuaikan dengan latar tahun menambah atmosfer nostalgia dalam film tersebut, memberikan perasaan yang lebih intim antara penonton dan film. Meskipun memiliki premis yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa film ini menjanjikan, tetapi masih ada aspek yang menjadi kekurangan. Di antaranya adalah beberapa adegan penting di dalam cerita yang seharusnya dapat ditunjukkan atau dijelaskan lebih terperinci guna memperjelas plot bagi penonton, tetapi pihak produksi film memilih untuk melewatkan detail-detail tersebut yang mengharuskan penonton lebih jeli agar memahami hubungan tiap kejadian dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Selain hadir sebagai film yang menghibur, Samjin Company English Class juga memperlihatkan kepada penonton untuk lebih memperhatikan isu-isu yang dialami oleh perempuan dan alam, untuk membangun sebuah kesadaran bahwa adanya kelompok-kelompok yang perlu dibantu demi memperoleh hak dan keadilan sebagai mahluk hidup, jika eksistensi mereka patut mendapatkan perhatian dari masyarakat luas untuk membangun suatu lingkungan yang ramah bagi setiap individu dan peduli terhadap keberlangsungan alam. Samjin Company English Class menyuguhkan tontonan seru dan segar. Film ini membuktikan bahwa meskipun mengangkat topik yang lumayan berat dan serius, namun melalui penceritaan yang menarik disertai dengan selipan adegan-adegan komedi membuat penonton akan merasa penasaran serta betah menyaksikan hingga akhir film.

 

Talitha Djulia Claresta, lahir di Sungailiat, 29 Oktober 2000. Sekarang tinggal di Yogyakarta.

 

Pemeriksa aksara: Radit Bayu A.

 

Footer