×

Langganan Artikel Bukit Buku

Kebersihan Sungai Demi Masa Depan

Kebersihan Sungai Demi Masa Depan

Judul Buku: Konferensi Musim Sejagat (Antologi Cerpen Anak)

Nama Penulis : Setyaningsih dan Na’imatur Rofiqoh

Ilustrator: Na’imatur Rofiqoh

Penerbit: Penerbit Bilik Literasi Cilik

Ketebalan: 48 Halaman

 

Coba, lihat sungai di sekeliling kalian. Apakah sungainya jernih? Atau sudah kotor dan tercemar sampah? Pasti kalau sudah tercemar sampah kita jadi malas, ya, untuk bermain di sungai? Tapi pernah kepikiran, tidak? Kalau kita saja tidak mau bermain di sungai karena kotor, apalagi ikan yang tinggal di situ? Penasaran bukan?

 

Nah, kumpulan cerita pendek berjudul Konferensi Musim Sejagat karya Setyaningsih dan Na’imatur Rofiqoh yang dikemas dalam 48 halaman saja, mencoba memberikan potret ‘kehidupan lain’ tentang mahluk-makhluk yang hidup di sungai, jika sungai kita sudah tidak sehat. Meski tipis, cerita di dalamnya sangat seru untuk diikuti. Dengan bumbu ilustrasi dari Na’imatur Rofiqoh, buku ringkas ini bisa dinikmati oleh semua umur, dilihat dari segi cerita dan ilustrasi yang memberikan kesan nostalgia kepada para pembaca.

 

Meski demikian, buku ini berisi isu yang sangat penting tentang masa depan kita; ya, polusi. Polusi air pada sungai, dibalut dengan cerita anak-anak yang jujur, mampu memberikan wawasan pada pembaca (terutama anak-anak) tentang dampak polusi sungai. Pemilihan kata juga sangat mudah dipahami bahkan sarkas pun terlihat seperti dialog biasa bagi anakanak. Tapi, jika kamu membacanya dengan cukup jeli, cerita-cerita yang terhimpun dalam buku ini memberikan kritik sosial yang cukup keras.

 

Mengajarkan Kebersihan Sungai dan Alam Sekitarnya

 

Ada enam cerita seru yang bisa kalian baca. Semuanya mengangkat kisah yang berbeda tapi masih dalam satu tema yang sama. Menurut saya, buku ini cocok untuk mengajari anak-anak agar selalu menjaga kebersihan sungai dan alam sekitarnya. Cerita pertama yang berjudul “Kota Pepe”, berisi tentang kota ikan terbesar sepanjang aliran sungai. Mereka hidup bahagia bak di negeri dongeng, bahkan ini mengingatkan pada sebuah kartun ikan di televisi berjudul Kiko. Tapi, tidak seperti Kiko yang awalnya semua ikan di kota itu hidup bahagia, ikan-ikan di sini terpaksa pindah dan mengungsi karena rumah mereka sudah tercemari oleh sampah. Di sini, sangat terlihat bahwa penulis ingin menyampaikan bahwa ikan-ikan di sungai sangat terusik dengan sampah yang sangat merusak.

 

Pada cerita yang berjudul “Hantu Sampah”, menceritakan anak-anak yang tinggal di pinggiran sungai yang sudah tercemar parah. Sungai tersebut benar-benar kotor.

Di sini, penulis mendeskripsikannya secara jelas. Dikisahkan, ada seorang anak yang turun ke sungai untuk mengambil bola, padahal hal itu sangat dilarang, sebab sungai sudah tercemar dan menjadi biang penyakit. Anak itu kemudian dimarahi oleh kakaknya dan ditakut-takuti dengan ikan bermuka dua. Meski Adin tidak percaya, ia tetap tersenyum, seperti tipikal anak pada umumnya yang hanya nyengir ketika diberi nasihat atau sedang dimarahi. Sosok mengerikan dari hantu sampah pun muncul dari gundukan sampah. Ada satu bagian yang sedikit lucu bagi remaja seperti saya. Sebuah kalimat sarkasme, kritik keras, namun halus. Kasian, bahkan hantu pun diganggu oleh sampah!

 

Keseimbangan Alam, Dimulai dari Kebersihan Air

 

Selain membicarakan mengenai kebersihan sungai, kumpulan cerita ini juga memberikan gambaran bahwa agar dapat meraih keseimbangan dunia, kita dapat memulainya dengan menjaga mata air, salah satunya sungai. Lihat saja dalam cerita yang berjudul “Konferensi Musim Sejagat”, cerita yang paling terasa dongengnya. Menceritakan pertemuan dewa empat musim serta dewa-dewa yang ikut andil dalam menjaga kestabilan iklim jagat raya yang sedang mengadakan rapat 10 tahun sekali. Mereka sedang marah karena ulah manusia yang enggan menjaga kebersihan air. Di akhir cerita, penulis seperti menyuguhkan, bahwa dengan badai air yang dahsyat pula (dewa badai), dapat membuat manusia lebih takut untuk membuang sampah di sungai.

 

Lalu, pada cerita yang berjudul “Vionisa dan Kedip”, memberikan gambaran bahwa ciri sungai yang sehat adalah dengan adanya ikanikan yang masih hidup di sungai. Dengan demikian, keseimbangan alam terjadi. Pada cerita “Idan Takut Air”, air yang meluap karena banjir dan sampah membuat alam tidak seimbang dan menjadikannya bencana alam yang meninggalkan trauma tersendiri bagi sebagian orang.

 

Ajakan untuk Menjaga Sumber Air dan Sungai

Cerita- cerita yang terhimpun sangat bagus. Baik dari segi penceritaannya, pilihan gaya bahasa, serta visual yang disuguhkan. Sebagai pembaca, saya sangat menyukai isu yang diangkat. Namun, meski demikian, ada beberapa cerita yang sangat singkat dan akhir yang terkesan terburu-buru untuk selesai, sehingga membuat cerita sangat menggantung. Meskipun begitu, buku ini tetap bagus untuk memotivasi anak-anak agar menjaga kebersihan sungai.

 

Sungai adalah salah satu sumber mata air. Tanpa adanya sungai, maka tidak ada mata air. Tidak ada mata air, maka tidak ada masa depan. Tidak ada masa depan, sama saja tidak ada kehidupan.

 

Natasyarani, Alumnus SMP Negeri 1 Plantungan, Kendal, yang suka membaca buku.













Footer