Fenomena tanah yang berubah karakter menjadi cair (seperti lumpur) akibat guncangan gempa, menyebabkan kehilangan daya dukung tanah. Kehilangan daya dukung tanah berdampak pada bangunan yang berdiri di atas tanah tersebut. Resiko amblas dan roboh pun menjadi tidak terhindarkan.
Menurut Nuraini Rahma Hanifa, periset dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), fenomena tersebut sering terjadi di daerah berpasir yang jenuh air seperti wilayah pesisir. Lantaran, Guncangan gempa (bahaya primer) memicu tekanan air pori yang merusak kestabilan butiran tanah. Umumnya terjadi pada gempa di atas Magnitudo 5 dengan kedalaman tanah sekitar 20 meter.
Fenomena alam dan bencana yang terjadi di suatu tempat pastinya, tidak dapat terlepas dari pengetahuan lokal masyarakat sekitar. Baik itu berupa dongeng, mitos, legenda, dan lain sebagainya yang dijadikan kepercayaan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Biasanya tradisi-tradisi lisan itu, diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk penghormatan kepada alam semesta atau pun leluhur mereka.
Jauh di ujung utara Pulau Sumatera, tepatnya di daerah Aceh terdapat sebuah tradisi yang dilakukan untuk mitigasi bencana. Tradisi ini diberi nama dengan Tradisi Smong yang berarti hempasan gelombang besar (tsunami). Sebuah tradisi yang tumbuh dalam kearifan lokal masyarakat Pulau Simeulue. Berawal dari peristiwa tsunami yang terjadi pada tahun 1907.
Tradisi ini berusaha untuk menyampaikan pesan, jika terjadi gempa kuat (Linon) dan air laut surut. Segera lari ke tempat tinggi tanpa menunggu air datang. Hal ini disampaikan melalui syair “Nandong”, cerita rakyat “Nafi-nafi”, dan lagu pengantar tidur. Garis besar dari warisan lisan tersebut berisi tentang tanda-tanda alam sebelum tsunami dan petunjuk untuk segera cara menyelamatkan diri ke dataran tinggi.
Megathrust yang terjadi di laut, dampaknya akan menyasar ke wilayah pesisir. Di wilayah inilah potensi tsunami dan likuifaksi bertemu. Secara sains likuifaksi memiliki resiko teknis, mengapa tanah pesisir bisa “menelan” bangunan saat gempa megathrust terjadi. Dalam peristiwa ini, Tradisi Smong hadir untuk memberikan instruksi evakuasi yang berbasis pada pengetahuan lokal. Jika tanah mulai melunak (likuifaksi) akibat gempa, masyarakat yang paham dari pesan tradisi Smong akan langsung menjauh dari zona pesisir menuju ke bukit. Hal ini terbukti saat tsunami yang terjadi pada tahun 2004, meskipun Simeulue diguncang gempa megathrust dahsyat. Korban jiwa akibat dari kejadian tsunami sangat minim karena warga mematuhi instruksi yang terkandung di dalam Tradisi Smong.
Di bawah kaki yang berpijak, ada raksasa yang sewaktu-waktu bisa terbangun dan mengubah daratan menjadi bubur yang menelan apa saja di atasnya. Jika sensor adalah mata yang mengawasi laut, maka memori adalah jangkar yang menahan kita agar tidak hanyut dalam kepanikan. Tanpa ingatan yang terjaga, cerita-cerita lokal, kecanggihan teknologi hanya akan menjadi saksi bisu atas tragedi yang berulang di atas tanah yang sama.
LANGGANAN