×

Langganan Artikel Bukit Buku

Apa itu Krisis Iklim dan Climate Fiction?

Apa itu Krisis Iklim dan Climate Fiction?

Krisis Iklim, we guess situasi kita SEKARANG. Situasi di mana sistem yang memengaruhi kehidupan kita (ekonomi, politik, gaya hidup) membawa kita ke dalam kehancuran. Sistem yang memaksa manusia untuk hidup lebih konsumtif dengan ekploitasi besar-besaran terhadap bumi—satu-satunya tempat hidup kita. Hal ini karena kita lupa atau mungkin dipaksa untuk lupa tentang identitas utuh manusia sebagai bagian dari satu kesatuan ekosistem. Sehingga, sebagian kecil manusia bisa menggunakan sistem kapitalistik ini untuk mengeruk kekayaan dirinya sendiri sampai bumi tidak bisa menampung aktivitasnya lagi. Bencananya makin parah, cuaca ekstrem, iklim nggak stabil, dan tentunya dunia semakin kacau.

 Krisis iklim dapat juga dikatakan sebagai krisis pararel kompleks, sebab dapat meningkatkan ketidaksetaraan, ketidakadilan, bahkan mencetus perang akibat kerusakan lingkungan.  Adanya pemanasan global sangat berdampak buruk di kehidupan sekarang, bahkan di masa-masa yang akan datang. Bukti nyata adanya kebakaran hutan, cuaca ekstrem, penurunan keanekaragaman hayati, penurunan muka air tanah, dan banjir rob bukanlah sebuah deretan angka-angka sebagai data semata. Itu semua mungkin akan menjadi neraka di masa depan yang terjadi pada tahun 2050. Jika tidak ada penangan serius, efeknya mungkin akan lebih cepat dan lebih parah dari yang diprediksikan. Selama beberapa dekade terakhir, berbagai laporan ilmiah telah memperingatkan bahwa perubahan iklim membawa dampak serius bagi kehidupan manusia dan lingkungan.

Lalu, apa itu Climate Fiction?

 

Diskusi mengenai perubahan iklim selama ini banyak disampaikan melalui laporan ilmiah, statistik, dan analisis kebijakan. Namun, pemahaman publik tentang krisis iklim tidak selalu lahir dari data semata. Cerita, imajinasi, dan narasi memiliki peran penting dalam membantu manusia memahami skala perubahan yang sedang terjadi. Menanggapi situasi tersebut, muncul berbagai cara untuk membicarakan krisis iklim melalui pendekatan yang lebih naratif. Salah satu yang semakin mendapat perhatian adalah climate fiction atau cli-fi.

 

Cli-fi merupakan singkatan dari climate fiction, yaitu karya fiksi yang menempatkan perubahan iklim sebagai bagian utama dari dunia yang diceritakan. Dalam banyak kisah cli-fi, dunia digambarkan sedang menghadapi perubahan lingkungan yang besar atau telah berubah sepenuhnya akibat krisis iklim. Genre ini berkembang dari tradisi fiksi ilmiah yang sering pula memadukan unsur realisme dan pengalaman manusia sehari-hari. Istilah cli-fi mulai dikenal luas pada dekade 2010-an ketika perbincangan tentang perubahan iklim semakin ramai di ruang publik. Meski demikian, gagasan tentang cerita yang berkaitan dengan krisis lingkungan sebenarnya telah muncul jauh sebelumnya. 

 

Kolumnis theguardian.com, Rebecca Solbit baru-baru ini menulis artikel panjang tentang pentingnya cerita-cerita iklim untuk membangunkan kesadaran. Ia menegaskan, kita masih kekurangan cerita yang memberi konteks. Sebagai contoh dalam skala global, pabrik bahan bakar fosil membunuh hampir 9 juta orang setiap tahunnya,—jumlah kematian yang lebih besar daripada perang—tetapi jumlah korban tewas itu sebagian besar tidak terlihat karena kurangnya cerita yang menarik tentangnya.

 

Karya cli-fi biasanya memiliki beberapa ciri yang cukup khas. Alur cerita sering bergerak cepat dan dipenuhi situasi krisis. Latar cerita mengalami perubahan drastis, mulai dari kota yang terendam air laut hingga ekosistem yang runtuh akibat perubahan lingkungan. Suasana cerita juga sering menghadirkan rasa cemas dan ketidakpastian terhadap masa depan. Dalam banyak kisah cli-fi, perubahan iklim tidak diselesaikan oleh satu tokoh heroik seperti dalam cerita petualangan. Krisis iklim merupakan persoalan yang melibatkan banyak faktor mulai dari sosial, ekonomi, dan politik. Berdasarkan hal tersebut banyak cerita cli-fi menempatkan pengalaman emosional manusia sebagai pusat narasi ketika menghadapi perubahan lingkungan yang besar.

 

Melalui pendekatan cerita, cli-fi mampu memperlihatkan dampak perubahan iklim secara lebih konkret. Kenaikan suhu global sebesar satu atau dua derajat mungkin terdengar kecil ketika disampaikan melalui angka statistik. Namun, dampaknya menjadi jauh lebih terasa ketika digambarkan melalui kisah tentang kota yang tenggelam, komunitas yang kehilangan ruang hidup, atau manusia yang harus beradaptasi dengan lingkungan yang berubah.

 

Cerita-cerita cli-fi juga membantu membangun hubungan emosional antara pembaca dan masa depan. Ketika pembaca mengikuti pengalaman tokoh dalam menghadapi perubahan iklim, mereka mulai membayangkan kemungkinan masa depan mereka sendiri. Imajinasi semacam ini dapat membuka ruang refleksi sekaligus memperluas kesadaran tentang hubungan manusia dengan lingkungan. Dalam konteks tersebut, cli-fi menghadirkan cara lain untuk membicarakan krisis iklim. Narasi fiksi membuat persoalan yang sering terasa jauh dan abstrak menjadi lebih dekat dengan pengalaman manusia. Melalui cerita, pembaca diajak membayangkan dunia yang berubah sekaligus mempertanyakan bagaimana manusia memilih untuk merespons perubahan tersebut.

 

 

Redaksi

Footer